London (ANTARA) - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai rencana menganeksasi atau membeli Greenland telah menimbulkan “kekhawatiran besar” di kalangan masyarakat setempat.
Menteri Energi Greenland menyebut, sejumlah warga bahkan melaporkan mengalami gejala kesulitan tidur.
Menteri Urusan Bisnis dan Sumber Daya Mineral Greenland, Naaja Nathanielsen, Selasa (13/1) mengatakan bahwa perdana menteri serta seluruh pimpinan partai politik di Greenland telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa wilayah tersebut “tidak memiliki niat untuk menjadi bagian dari Amerika Serikat.”
“Itu bukan sesuatu yang kami cita-citakan atau perjuangkan. Namun, selama bertahun-tahun kami memang membangun kerja sama yang erat dengan Amerika Serikat. Kami adalah sekutu AS, tetapi kami tidak melihat diri kami sebagai bagian dari Amerika,” ujar Nathanielsen dalam sebuah acara di parlemen Inggris di London.
Nathanielsen mengatakan banyak warga Greenland merasa “dikhianati” oleh retorika Trump terkait pulau tersebut.
Ia menilai, masyarakat resah dengan pesan-pesan dari AS mengenai kemungkinan aneksasi atau pembelian Greenland.
“Kami merasa retorika itu menyinggung, seperti yang sudah berkali-kali kami sampaikan, sekaligus membingungkan karena selama ini kami tidak melakukan apa pun selain mendukung pandangan bahwa Greenland merupakan bagian dari kepentingan nasional Amerika Serikat,” katanya.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar tentang masa depan. Warga melaporkan sulit tidur. Isu ini benar-benar memenuhi agenda dan menjadi bahan pembicaraan di tingkat rumah tangga,” tambahnya.
Menanggapi pertanyaan mengenai kekhawatiran AS terkait keamanan kawasan Arktik seiring meningkatnya kehadiran Rusia dan China, Nathanielsen mengatakan Rusia merupakan negara Arktik, sementara China telah lama menunjukkan ketertarikan terhadap kawasan tersebut.
Ia menambahkan, Greenland selama bertahun-tahun juga mendorong peningkatan pemantauan di kawasan Arktik.
“Kami tidak memiliki masalah untuk lebih menyadari apa yang terjadi di sekitar Greenland. Kami juga tidak keberatan memberikan akses yang lebih besar bagi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Greenland,” ujarnya.
"Semuanya akan diserang"
Terkait pertanyaan apakah ia mengharapkan dukungan dari negara-negara NATO jika terjadi invasi AS, Nathanielsen mengatakan bahwa jika skenario itu benar-benar terjadi, maka dunia akan menghadapi tatanan baru.
“Ini berarti satu negara diserang oleh mitra NATO lainnya. Namun, sebenarnya kita semua akan berada dalam posisi diserang,” katanya.
Menurut dia, hal tersebut akan mencerminkan runtuhnya supremasi hukum, hukum internasional, serta berbagai perjanjian dan traktat yang ada.
Pernyataan Nathanielsen disampaikan sehari sebelum para pejabat senior Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan pejabat AS di Washington.
Pertemuan tersebut akan digelar pada Rabu waktu AS, dan dihadiri Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen serta Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt.
Dari pihak AS, pertemuan itu dijadwalkan dihadiri Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menurut laporan media.
Greenland, wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, selama ini menarik perhatian AS karena lokasinya yang strategis serta kekayaan sumber daya mineralnya.
Namun, desakan Trump untuk menguasai pulau tersebut, termasuk pernyataan yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, menuai kecaman luas dari berbagai negara.
Trump, yang dikenal sebagai pengembang properti, menyebut kepemilikan Greenland sebagai “kebutuhan mutlak” bagi keamanan ekonomi AS, dan membandingkannya dengan “kesepakatan properti berskala besar.”
Denmark dan Greenland telah bersama-sama menolak usulan penjualan wilayah tersebut dan kembali menegaskan kedaulatan Denmark atas Greenland.
Sementara itu, sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, dilaporkan tengah membahas kemungkinan penempatan pasukan di wilayah otonom Denmark tersebut sebagai upaya meredakan kekhawatiran keamanan yang disampaikan Trump.
Sumber: Anadolu
Baca juga: China tanggapi keinginan AS yang sebut membutuhkan Greenland
Baca juga: Uni Eropa ragu AS akan gunakan kekuatan militer rebut Greenland
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

3 hours ago
3




































