Venezuela dan Realpolitik Donald Trump

2 days ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustras konflik Venezuela dan Amerika Serikat. Sumber: Shutterstock.

Politik dunia adalah panggung teater raksasa. Episode yang tersaji baru-baru ini: sebuah negara berdaulat diserang, presidennya diculik pasukan khusus dan akan diadili di bawah hukum Imperium Kebebasan (Empire of Liberty). Sebuah unjuk kekuatan telanjang di bawah bayang-bayang anarki yang tak bertepi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan khusus AS telah berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Konfrontasi verbal dan retoris yang telah berlangsung lama, berkulminasi dalam peristiwa serangan di Caracas dan penculikan Maduro. Serangan terhadap negara berdaulat dengan penangkapan presidennya, mengindikasikan bahwa dunia jauh dari stabil dan baik-baik saja. Ada indikasi kekacauan tak terperikan.

Ada tabir besar yang tersingkap. Tabir yang sudah koyak, kini luruh seutuhnya. Pertama, ini mengindikasikan hancurnya fondasi moral dalam kebijakan luar negeri AS, fondasi yang dirajut sejak awal eksistensinya; kedua, realpolitik menempati momentum historisnya kembali dibawah anarki dunia; ketiga, tatanan dunia berbasis aturan yang sudah sekarat, kini mati total. Dunia sedang dihadapkan pada ketidakpastian baru yang lebih berbahaya.

Raibnya Moralitas sang Pendakwah

Sejak awal eksistensinya sebagai sebuah negara berdaulat, Amerika Serikat sudah memegang keyakinan eksepsionalisme-nya. Deklarasi Kemerdekaannya mengguncang dunia dengan keyakinan universal bahwa manusia diciptakan setara. Dengan Washington Doctrine, Republik baru itu enggan mengotori jejaknya dalam keterikatan persaingan kekuatan di Eropa yang dianggap amoral. Juga, AS berusaha mencitrakan diri sebagai primus inter pares promotor dan pejuang kebebasan, yang dalam keyakinan Thomas Jefferson akan terwujud dalam Kekaisaran Kebebasan (Empire of Liberty).

Bagi AS, hubungan antar bangsa selalu dipandang dalam kacamata moralitas. Tatapan sinis dan penuh celaan selalu ditujukan pada praktik diplomasi Eropa yang dianggap penuh intrik, nir-moral, dan mempertontonkan perebutan kekuasaan secara telanjang. Kemunculan Woodrow Wilson di panggung dunia pada akhir Perang Dunia Pertama merevisi total hukum purba Eropa tentang keseimbangan kekuatan (balance of power).

Sebagai gantinya, AS mengajukan proposal Liga Bangsa-bangsa dan supremasi hukum internasional. Woodrow Wilson ingin memastikan dunia yang aman bagi demokrasi. Ditulis Henry Kissinger dalam bukunya, Diplomacy, bagi Wilson tatanan internasional harus didasarkan pada hukum universal dan kepercayaan, bukan keseimbangan dan persaingan. Sejak saat itu, kebijakan AS selalu dimotivasi wahyu Wilsonian untuk menjadi promotor demokrasi dan kebebasan, yang merupakan penjelmaan eksepsionalisme Amerika. Singkatnya, kebijakan luar negeri AS selalu didasarkan pada moralitas, tak peduli seberapa hipokrit dalam pelaksanaannya. Amerika menjadi pendakwah paling vokal di dunia.

Keputusan Trump untuk menyerang Venezuela, menculik presidennya, dan dengan gamblang menguasai sumber daya minyaknya, meraibkan moralitas dalam kebijakan luar negeri AS. Dakwah moral yang selama ini menjadi tabir penghalang ambisi AS yang sejati, baik dalam narasi demokrasi, hak asasi, atau kebebasan, kini luruh seutuhnya.

Trump tidak menghancurkannya, ia hanya melepaskan tabir hipokrisi yang selama ini menghalangi. Sejak awal, dakwah moralitas AS yang rapuh dalam menutupi kepentingannya, kini disingkap Trump tanpa segan. Ia ingin minyak Venezuela! dunia harus tahu itu.

Tak ada kejutan apapun dari peristiwa ini. Hanya saja dunia semakin diyakinkan bahwa AS sama sekali bukan kiblat kebebasan, bukan guru demokrasi, bukan pendakwah hak asasi manusia. Eksepsionalismenya luruh tak bersisa. AS tidak berbeda dengan negara lain yang mendasarkan kebijakannya pada raison d’etat, kepentingan negara total, bukan nilai moral.

Realpolitik — kebijakan luar negeri yang didasarkan pada kekuatan dan kepentingan — menjadi pilihan kebijakan Trump. Dunia sangat asing dengan dogma ini, karena selama satu abad berada dalam bayang-bayang Wilsonian. Hantu Bismarck dan Disraeli yang tersingkir, kini menampakkan bayangnya kembali.

Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. Sumber: Shutterstock.

Trump tidak segan menegaskan kepentingan nasionalnya di Venezuela, terutama yang berkaitan dengan sumber daya minyak. Ia menganggap Maduro adalah batu karang penghalang yang harus disingkirkan. Sejak Theodore Roosevelt, tidak ada yang mengekspresikan Monroe Doctrine dengan unjuk kekuatan yang telanjang, selain Trump.

Demonstrasi kekuatan di Caracas, dimana sebua...

Read Entire Article