Di saat ekonomi pembangunan mengalami disfungsi struktural yang mendalam—ditandai oleh stagnasi produktif, krisis ketenagakerjaan, dan kontraksi konsumsi—yang sebenarnya terjadi bukan sekadar kegagalan teknis dalam pengelolaan variabel makroekonomi. Yang tengah berlangsung adalah runtuhnya relasi ekologis antara manusia, produksi, dan lingkungan kehidupannya.
Ekologi di sini bukan dipahami dalam pengertian sempit sebagai pelestarian alam, melainkan sebagai sistem relasi yang menghubungkan manusia dengan totalitas kehidupannya: tanah, air, udara, sesama manusia, dan tatanan kosmologis yang memberi makna pada aktivitas produktif. Kita sedang berada dalam situasi di mana "ekonomi" (nomos) telah sepenuhnya terpisah dari "rumah tangga" atau "alam" (oikos).
Karl Polanyi—dalam The Great Transformation (1944)—telah mengingatkan bahwa pemisahan ekonomi dari tatanan sosial dan ekologisnya merupakan eksperimen besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.
Ketika tanah, tenaga kerja, dan uang diubah menjadi komoditas fiktif, substansi masyarakat itu sendiri hancur. Tanah bukan semata-mata faktor produksi, melainkan habitat manusia. Tenaga kerja bukan sekadar input, melainkan aktivitas kehidupan manusia itu sendiri. Dan uang bukan hanya media pertukaran, melainkan juga representasi kepercayaan dan relasi sosial.
Paradigma pembangunan yang berlangsung selama beberapa dekade telah memperdalam pemisahan ini. PDB sebagai indikator utama kemajuan mengukur segala aktivitas yang menghasilkan nilai tukar moneter, tetapi terbukti latah terhadap nilai guna, reproduksi sosial, dan keberlanjutan ekologis.
Saat hutan ditebang, PDB naik. Ketika sungai tercemar oleh limbah, aktivitas remediasi juga menaikkan PDB. Di kala masyarakat kehilangan akses terhadap sumber daya produktif, konsumsi meningkat dan PDB pun tumbuh. Namun, apakah ini yang disebut kemajuan?
Ekonom ekologis terkemuka, Herman Daly, memperkenalkan konsep uneconomic growth, pertumbuhan yang biayanya melebihi manfaatnya ketika seluruh eksternalitas diperhitungkan (Daly, 1999).
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini terlihat jelas. Ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di periode tertentu ternyata disertai dengan fenomena deforestasi masif, deplesi sumber daya alam, polusi udara dan air yang mengancam kesehatan publik, serta disintegrasi komunitas lokal yang kehilangan basis produksi tradisionalnya.
Biaya ekologis dan sosial ini tidak pernah masuk dalam perhitungan PDB, sehingga angka pertumbuhan menjadi ilusi statistik yang seakan menyembunyikan kemiskinan struktural.
Stagnasi produksi yang kini dialami bukanlah semata-mata masalah siklus bisnis atau kebijakan moneter-fiskal yang keliru. Ia merupakan manifestasi dari keterputusan ekologis yang mendasar. Bagaimana sistem produksi telah kehilangan akarnya pada basis material dan sosial yang konkret.
Ketika petani kehilangan tanahnya akibat konversi lahan, mereka tidak hanya kehilangan sumber pendapatan, tetapi juga pengetahuan ekologis tentang musim, tanah, benih, dan air yang terakumulasi selama generasi.
Di kala nelayan tidak bisa melaut karena pencemaran, yang hilang bukan hanya ikan, melainkan juga seluruh tatanan pengetahuan tentang laut, angin, dan migrasi ikan.
Pengetahuan ekologis ini merupakan infrastruktur produktif yang sesungguhnya, yang tidak bisa digantikan oleh modal finansial atau teknologi impor.

22 hours ago
6





































