Moskow (ANTARA) - Setidaknya 75 orang tewas dalam operasi militer penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dilakukan Amerika Serikat pada 3 Januari lalu, lapor Washington Post, yang mengutip pejabat yang mengetahui isu tersebut, Rabu.
Secara spesifik, puluhan orang tewas dalam baku tembak yang berlangsung di kompleks Maduro di Caracas. Seorang sumber mengungkapkan sedikitnya 67 orang tewas selama serangan AS tersebut, sementara sumber lainnya menyebutkan bahwa sekitar 75 hingga 80 orang tewas.
Estimasi jumlah korban tewas mencakup data personel militer Kuba dan Venezuela serta warga sipil.
Pada 3 Januari AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka terbang ke New York.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan disidang karena diduga terlibat dalam "narkoterorisme" dan menimbulkan ancaman, termasuk ancaman bagi AS.
Menanggapi kondisi tersebut, Caracas kemudian mendesak pertemuan darurat PBB untuk membahas operasi AS tersebut.
Mahkamah Agung Venezuela untuk sementara waktu menyerahkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang secara resmi dilantik sebagai presiden sementara di hadapan Majelis Nasional pada 5 Januari.
Sejumlah negara yakni Rusia, China, dan Korea Utara mengecam keras tindakan AS terhadap Venezuela tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritas dengan rakyat Venezuela dan menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya, serta menuntut pencegahan eskalasi lebih lanjut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Dukung presiden sementara, China hormati kedaulatan Venezuela
Baca juga: Komisi I DPR: Penangkapan Presiden Venezuela ancam kedaulatan negara
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

4 days ago
8





































