Gelombang demonstrasi di Iran terus terjadi akibat lonjakan biaya hidup, tingginya laju inflasi, hingga sulitnya mencari pekerjaan. Mengutip Bloomberg, Minggu (11/1), gelombang demo pecah di Teheran dimulai pada akhir bulan lalu, setelah nilai tukar rial anjlok ke level terendah sepanjang sejarah.
Pelemahan mata uang itu langsung mendongkrak harga kebutuhan pokok dan memperparah krisis ekonomi yang telah lama membelit Iran akibat isolasi global dan sanksi internasional. Protes kemudian menyebar ke berbagai wilayah, memicu respons keras dari kepemimpinan agama dan militer yang mengancam akan menjatuhkan hukuman berat kepada pihak yang mereka sebut sebagai “perusuh.”
Bagi Republik Islam Iran, unjuk rasa massal bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun, pemerintahan teokratis di negara itu berulang kali menghadapi gelombang perlawanan publik. Pada 2022, demonstrasi besar dipimpin oleh perempuan sebagai respons atas perlakuan represif yang disorot setelah kematian tragis seorang perempuan muda.
Sementara pada 2009, protes besar meletus menyusul terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang menjadi kerusuhan terparah sejak kejatuhan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kerap berhasil meredam perbedaan pendapat, sering kali dengan cara-cara represif dan kekerasan.
Namun, situasi kali ini dinilai memiliki perbedaan penting. Dina Esfandiary, kepala geoekonomi Timur Tengah Bloomberg Economics, bahkan memprediksi Republik Islam kemungkinan besar tidak akan bertahan dalam bentuknya saat ini, hingga akhir 2026. Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa perubahan hampir pasti terjadi, meski wujud akhirnya masih belum jelas.
Salah satu pembeda utama dibandingkan protes-protes sebelumnya adalah kondisi ekonomi Iran yang kian terpuruk setelah bertahun-tahun berada di bawah sanksi.
Nilai rial telah merosot sekitar 40 persen, yang mendorong inflasi pangan melonjak hingga 70 persen secara tahunan, menurut perkiraan Gavekal Research. Tekanan tersebut diperparah oleh kekeringan berkepanjangan serta buruknya pengelolaan sumber daya air yang menekan produksi pangan domestik.
Masalah ekonomi tak berhenti di situ. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dan pasar tenaga kerja yang rapuh, dengan estimasi tingkat partisipasi angkatan kerja hanya sekitar 41 persen menciptakan lingkungan yang sangat berat bagi usaha kecil dan menengah. Banyak bisnis gulung tikar, sementara perusahaan-perusahaan yang memiliki afiliasi dengan IRGC disebut berusaha mengambil alih ruang yang ditinggalkan, menurut Esfandiary.
Seiring semakin banyak warga Iran jatuh ke jurang kemiskinan, rasa frustrasi dan kebencian tumbuh terhadap kelompok yang memiliki koneksi politik sehingga tetap terlindungi. Dalam beberapa hari terakhir, terlihat bahwa sebagian besar penduduk mulai bersatu menyuarakan tuntutan perubahan politik, tulis Tom Holland, wakil direktur riset global Gavekal, dalam catatan terbarunya.
Bahkan Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai simbol basis konservatif pendukung pemerintah, dilaporkan melakukan mogok hampir dua pekan.
Perbedaan penting ...

9 hours ago
3





































