Fenomena Drachin atau drama China berdurasi pendek belakangan ini tidak lagi sekadar tontonan ringan yang identik dengan perempuan. Sementara laki-laki—terutama yang sudah berstatus bapak-bapak—sering memosisikan diri sebagai tim yang “kebal” terhadap tontonan melodramatis. Namun belakangan, muncul fenomena menarik: drama China berdurasi pendek atau Drachin justru digemari oleh tim yang selama ini mengaku alergi drama.
Fenomena ini tidak lagi berlangsung diam-diam. Sejumlah figur publik bahkan mengaku secara terbuka menonton Drachin untuk mengisi waktu luang. Pengakuan semacam ini patut dibaca bukan sekadar sebagai preferensi hiburan, melainkan sebagai sinyal budaya.
Rasa penasaran mendorong penulis menonton beberapa judul Drachin yang cuplikannya kerap muncul di media sosial. Polanya nyaris seragam. Cerita hampir selalu dibuka dengan kesalahpahaman—sering kali diawali mabuk, salah kamar, lalu kejadian “dewasa”. Setelah itu, barulah terungkap bahwa tokoh laki-laki adalah CEO dengan kekuasaan nyaris tak terbatas: pemilik perusahaan besar, rumah sakit, hotel, bahkan tambang. Konflik kemudian diselesaikan secara instan melalui uang, kuasa, dan romantisasi keberhasilan.
Dari sisi narasi, banyak Drachin yang sulit diterima secara logika. Alur cerita kerap mengorbankan rasionalitas demi kecepatan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Penonton tidak dituntut untuk berpikir atau menganalisis. Cukup menonton, menerima, lalu selesai. Dengan durasi sekitar lima menit per episode, puluhan episode pun terasa seperti camilan hiburan yang cepat habis.
Pertanyaannya kemudian, mengapa tontonan seperti ini justru menarik bagi pria dewasa?
Pertama, soal waktu dan ritme hidup. Pria dewasa kerap hidup dalam potongan-potongan waktu singkat: jeda kerja, waktu menunggu, atau sela-sela kesibukan keluarga. Drachin hadir sebagai hiburan instan yang tidak menuntut komitmen panjang, tanpa perlu mengingat alur rumit atau karakter kompleks.
Kedua, Drachin menawarkan fantasi maskulinitas yang kontras dengan realitas. Tokoh laki-laki digambarkan sebagai figur sempurna: berkuasa, mapan, dihormati, dan selalu diinginkan. Di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, dan tuntutan peran sebagai pencari nafkah, figur ini berfungsi sebagai penguat ego sekaligus pelarian sementara. Di layar, semua masalah selesai dengan satu tanda tangan dan satu keputusan tegas—sesuatu yang jarang terjadi di dunia nyata.
Ada pula aspek yang jarang disadari: Drachin menghadirkan rasa “diterima tanpa tuntutan”. Tokoh perempuan mencintai sang pria tanpa prasyarat kompleks—tanpa cicilan, tanpa target hidup jangka panjang, tanpa beban sosial. Fantasi ini menjadi ruang aman psikologis, tempat seseorang bisa merasa cukup tanpa harus menjelaskan atau membuktikan apa pun.
Hal ini menunjukkan bahwa angan-angan tentang pasangan ideal bukan monopoli perempuan. Laki-laki pun memilikinya, meski jarang diungkapkan secara terbuka. Drachin menyediakan medium aman untuk berkhayal, tanpa harus mengaku atau merasa bersalah.
Pada akhirnya, Drachin bukan sekadar tontonan ringan. Ia adalah cermin kelelahan kolektif. Di tengah arus berita tentang krisis, kejahatan, bencana, dan korupsi, manusia mencari cara sederhana untuk beristirahat sejenak. Cerita ringan—meski dangkal—justru menjadi penawar yang efektif.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah mengapa bapak-bapak menonton Drachin, melainkan apa yang sedang kurang dari kehidupan mereka hingga fantasi lima menit terasa begitu menenangkan. Selama realitas tetap terasa berat, tontonan semacam ini akan terus menemukan penontonnya—bukan karena kualitas ceritanya, melainkan karena kebutuhan psikologis yang ia penuhi.

9 hours ago
4





































