Rumah Tangga Tanpa Amanah: Bagaimana Agama dan Nilai Sosial Indonesia Menilainya

2 days ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
ilustrasi ini di buat oleh penulis dengan ai

Perselingkuhan dalam rumah tangga bukan isu baru di Indonesia, tetapi intensitas dan normalisasinya terasa makin kuat di ruang publik. Media sosial, gosip selebritas, hingga cerita viral di platform digital memperlihatkan satu pola yang sama: perselingkuhan berulang seolah dianggap “kesalahan manusiawi” yang bisa dimaklumi selama masih ada kata maaf. Padahal, bagi banyak keluarga, perselingkuhan bukan sekadar pelanggaran emosional, melainkan penghancuran amanah yang menjadi fondasi pernikahan.

Dalam konteks agama dan nilai sosial Indonesia, rumah tangga dibangun di atas kepercayaan, tanggung jawab, dan komitmen moral. Ketika amanah ini dikhianati berulang kali, muncul pertanyaan besar: apakah pernikahan masih layak dipertahankan hanya demi status, anak, atau tekanan sosial? Ataukah justru agama dan nilai sosial memberi batas tegas terhadap relasi yang terus melukai?

Perspektif Agama: Amanah yang Dilanggar

Dalam Islam, pernikahan bukan hanya kontrak sosial, tetapi mitsaqan ghalizha—perjanjian yang kuat dan sakral. Kesetiaan adalah bagian dari amanah tersebut. Perselingkuhan jelas dikategorikan sebagai perbuatan dosa, bukan hanya karena melanggar batas moral, tetapi karena merusak hak pasangan dan ketenangan rumah tangga (sakinah).

Ulama sepakat bahwa perselingkuhan berulang menunjukkan rusaknya amanah dan kegagalan menjaga tanggung jawab sebagai suami atau istri. Dalam fikih, perilaku ini bisa masuk kategori khianat dan dzalim, karena melukai pasangan secara lahir dan batin. Islam memang membuka pintu taubat, tetapi taubat tidak berarti menghapus konsekuensi sosial dan moral dari perbuatan yang terus diulang tanpa perubahan nyata.

Lebih jauh, Islam tidak memerintahkan seseorang untuk bertahan dalam hubungan yang terus menyakiti. Prinsip la dharar wa la dhirar—tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan—menjadi dasar bahwa mempertahankan pernikahan bukan kewajiban mutlak jika amanah telah rusak dan kemudaratan terus terjadi.

Nilai Sosial Indonesia: Antara Tahan Demi Nama Baik dan Realitas Luka

Di masyarakat Indonesia, terutama yang masih kuat dengan nilai kolektivitas, korban perselingkuhan—sering kali perempuan—didorong untuk “sabar”. Bertahan dianggap lebih terhormat daripada berpisah. Perceraian masih dilihat sebagai aib, sementara perselingkuhan justru kerap ditoleransi selama tidak terbuka ke publik.

Ironisnya, standar sosial ini sering timpang. Pelaku perselingkuhan bisa tetap diterima, sementara korban yang memilih berpisah justru distigma sebagai “gagal menjaga rumah tangga”. Akibatnya, banyak rumah tangga bertahan secara administratif, tetapi rapuh secara emosional. Anak tumbuh dalam lingkungan penuh konflik, kepercayaan hilang, dan relasi berubah menjadi formalitas kosong.

Dalam perspektif sosiologi keluarga, rumah tangga tanpa amanah berisiko melahirkan siklus kekerasan emosional, ketidakstabilan psikologis, dan pola relasi tidak sehat yang diwariskan ke generasi berikutnya. Ini bukan sekadar urusan privat, tetapi masalah sosial.

Batas Kesabaran dan Makna Mempertahankan Pernikahan

Agama dan nilai sosial sejatinya tidak menuntut kesabaran tanpa batas yang berujung pada kerusakan diri. Kesabaran dalam Islam bukan berarti membiarkan diri terus dilukai, melainkan upaya mencari kebaikan dengan akal sehat dan pertimbangan moral. Jika perselingkuhan terjadi berulang kali tanpa penyesalan dan perubahan, maka mempertahankan pernikahan justru berpotensi bertentangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri.

Indonesia sebagai masyarakat religius dan berbudaya seharusnya mulai membedakan antara menjaga institusi pernikahan dan memaksa individu bertahan dalam hubungan yang tidak aman. Menyelamatkan martabat manusia jauh lebih utama daripada mempertahankan status sosial semu.

Rumah tangga tanpa amanah adalah peringatan serius bagi agama dan masyarakat. Dalam pandangan agama...

Read Entire Article