Prioritaskan Literasi, Jangan Memprioritaskan Akreditasi

3 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Fenomena minimnya literasi mahasiswa Indonesia bukan sekadar kelemahan individu, melainkan cerminan krisis sistemik dalam pendidikan kita. Data global menunjukkan tren serupa: bahkan lulusan universitas di Kanada dan Amerika Serikat mengalami penurunan kemampuan membaca dan bernalar. Maka, kritik terhadap pendidikan Indonesia harus ditempatkan dalam konteks lebih luas, bahwa dunia sedang menghadapi krisis literasi, dan kita tidak kebal.

Literasi Sebagai Fondasi Kehidupan

Saya ingin memulai refleksi ini dari ruang kelas saya sendiri. Mahasiswa yang saya temui sering kali tidak mengenal istilah sederhana seperti detoksifikasi, bencana ekologis, sinergisme, atau intervensi. Kalau istilah saja mereka tak mengerti, bagaimana mungkin mereka bisa menggunakan nalar dan membangun logika. Mereka miskin kosa kata, nalar sempit, dan logika tidak berjalan. Pertanyaan yang muncul: Apakah ini sekadar kelemahan generasi, atau ada yang lebih dalam?

Ilustrasi di satu perpustakan. (Sumber: Gemini Google)

Saya berpendapat, ada yang salah dengan ekosistem pendidikan kita. Pendidikan Indonesia terlalu lama terjebak dalam obsesi angka, seperti akreditasi, peringkat, sertifikasi, sementara substansi, yaitu kemampuan membaca, menalar, dan berbahasa, dibiarkan merosot.

Fenomena ini bukan unik Indonesia. Literacy Pittsburgh (2023) mencatat bahwa rendahnya literasi di Amerika sering berakar pada faktor sosial: kemiskinan, kurangnya teladan membaca, perpindahan sekolah, hingga trauma komunitas. Dampaknya luas: pengangguran lebih tinggi, produktivitas rendah, bahkan salah penggunaan obat karena tidak mampu memahami informasi kesehatan. Artinya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi kehidupan sosial dan ekonomi.

Di Kanada, sebuah studi menunjukkan bahwa 27% lulusan universitas berusia 25–65 tahun berada pada level literasi rendah (level 2 atau di bawahnya), dan 31% berada di level rendah untuk numerasi (Statistics Canada, 2014). Ironisnya, meski bergelar sarjana, mereka tidak memiliki keterampilan dasar untuk memahami teks kompleks atau melakukan perhitungan sederhana. Saya tidak menggunakan data hasil skor PISA untuk Indonesia untuk tidak menambah miris hati kita.

Urgensi Reformasi Akademik

Dalam laporannya, Clark dan HEQCO (2014) menekankan bahwa bukti penurunan literasi di kalangan lulusan universitas menambah urgensi reformasi akademik. Bukankah ini mirip dengan kondisi kita, di mana mahasiswa datang ke kampus tanpa kebiasaan membaca, tanpa modal kosa kata, dan tanpa tradisi intelektual?

Amerika Serikat pun menghadapi krisis serupa. Harvard Gazette (2025) melaporkan bahwa skor membaca siswa SMA jatuh ke titik terendah sejak 1992. Penurunan ini bukan hanya akibat pandemi, melainkan tren jangka panjang sejak pertengahan dekade 2010-an.

Salah satu penyebab utama adalah menurunnya minat membaca untuk kesenangan: hanya 14% remaja membaca setiap hari untuk hiburan, turun dari 27% pada 2012. Sebaliknya, 31% hampir tidak pernah membaca untuk kesenangan.

Elemen literasi. (Sumber: FOSMedia)

Bukankah ini juga terjadi di Indonesia, di mana mahasiswa lebih akrab dengan gawai dan video pendek daripada akrab dengan buku atau artikel hasil penelitian?

Jika kita hubungkan, terlihat pola global: literasi menurun karena ekosistem sosial, digital, dan pendidikan gagal menumbuhkan kebiasaan membaca dan bernalar. Di Indonesia, masalah ini diperparah oleh sistem pendidikan yang menekankan hafalan, ujian seragam, dan akreditasi administratif.

Mahasiswa tidak pernah diajak berhadapan dengan kosa kata baru, tidak pernah dilatih mengaitkan istilah dengan konteks hidup mereka, dan tidak pernah diberi ruang untuk berdebat kritis.

Kita harus mengakui bahwa krisis literasi adalah krisis peradaban. Tanpa kemampuan membaca dan bernalar, masyarakat kehilangan daya kritis terhadap informasi. Di era banjir hoaks, mahasiswa yang miskin kosa kata dan logika akan mudah terjebak dalam manipulasi. Pendidikan yang gagal menumbuhkan literasi berarti menyerahkan generasi muda pada arus informasi tanpa kompas.

Kampus Pun Terjebak

Kampus Indonesia sering kali terjebak dalam ritual administratif. Akreditasi, borang, dan sertifikasi menjadi tujuan utama, sementara substansi pembelajaran diabaikan. Padahal, literasi adalah inti dari semua disiplin ilmu. Mahasiswa teknik, kedokteran, atau pertanian sekalipun membutuhkan kosa kata dan logika untuk memahami teks, menulis laporan, dan berargumentasi. Tanpa itu, gelar akademik hanya menjadi simbol kosong.

Kita perlu menyoroti peran dosen. Dosen bukan sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator literasi. Setiap istilah baru harus dijelaskan, dipraktikkan, dan dihubungkan dengan kehidupan nyata. Mahasiswa harus diajak menulis ulang, berdebat, dan memvisualisasikan konsep. Literasi tidak tumbuh dari ceramah satu arah, melainkan dari interaksi yang menantang nalar.

Kebijakan pendidikan nasional harus bergeser dari obsesi angka ke substansi. Pemerintah harus berani menempatkan literasi sebagai indikator ut...

Read Entire Article