Membayangkan Indonesia 2045: Generasi Muda dalam Ujian Pragmatisme

2 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Sumber: freepik.com (free licences picture)

Tahun 2045 kelak, Indonesia genap berusia satu abad. Sebuah usia yang panjang, cukup panjang untuk melahirkan empat hingga lima generasi dengan cara pandang, luka sejarah, dan mimpi yang berbeda-beda. Pada titik itu, estafet kepemimpinan bangsa hampir pasti berada di tangan mereka yang hari ini disebut “generasi muda”- entah generasi Z, pasca-Z, atau nama apa pun yang kelak disematkan sejarah. Namun bagi saya, penamaan generasi tidak pernah sepenting watak dan nilai yang mereka bawa.

Idealisme dan pragmatisme adalah dua virus sosial yang sama-sama menular. Keduanya menyebar diam-diam, tanpa suara, tetapi membentuk arah hidup seseorang secara perlahan. Generasi sebelum kita pernah turun ke jalan, berdiri di depan gedung parlemen, mempertaruhkan nyawa demi meruntuhkan rezim yang mereka anggap menindas. Ironisnya, sebagian dari mereka kini justru menjadi bagian dari bangunan kekuasaan yang dahulu mereka gugat. Sejarah pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita: apakah kita akan berbeda, atau hanya mengulang siklus yang sama dengan wajah yang lebih muda?

Pada masa muda, idealisme terasa seperti nyala api. Kita berdiri di sisi mereka yang tersisihkan oleh fakta sosial (rakyat kecil), mereka yang suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk kepentingan elite. Namun seiring bertambahnya usia, meluasnya pergaulan, dan semakin seringnya tangan kita berjabat dengan kekuasaan, api itu perlahan diuji. Bukan oleh teori, melainkan oleh kenyamanan, akses, dan gengsi sosial.

Tanpa kita sadari, rasa bangga pun bergeser. Dulu bangga berdiri bersama rakyat, kini bangga berdiri di samping pejabat. Dulu bangga memberi manfaat langsung, kini bangga mengabadikan momen bersama simbol kekuasaan. Padahal, kekuasaan itu sejatinya digaji oleh rakyat, diberi mandat oleh rakyat, dan seharusnya bekerja untuk rakyat. Pragmatisme mengajarkan kita bahwa kedekatan dengan elite lebih menjanjikan daripada keberpihakan pada mereka yang lemah. Di titik inilah idealisme tidak mati, ia hanya tergelincir, pelan tapi pasti.

Indonesia 2045 lalu ingin kita bawa ke arah mana? Apakah benar ia akan menjadi “Indonesia Emas”, atau hanya sekadar Indonesia yang lebih modern tetapi kehilangan nuraninya? Emas tanpa nilai moral hanyalah logam; berkilau, tetapi dingin dan tak bernyawa. Kemajuan ekonomi tanpa keberpihakan sosial hanya melahirkan jurang, bukan keadilan.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika bekerja untuk rakyat kecil dianggap kurang prestisius, sementara berdekatan dengan lingkar elite, apa pun rekam jejak moral kekayaan dan kekuasaannya dianggap sebagai puncak keberhasilan. Ketika tangan yang membantu masyarakat dianggap biasa, tetapi tangan yang menjabat kekuasaan diperlakukan seolah pencapaian tertinggi. Di sanalah pragmatisme menjelma menjadi etos, dan idealisme direduksi menjadi nostalgia masa kuliah.

Namun, di tengah segala kegelisahan itu, saya masih memilih untuk membayangkan Indonesia 2045 sebagai ruang harapan. Sebuah negeri yang dipenuhi pemuda-pemuda yang bangga berdiri di samping mereka yang tertindas oleh zaman, bukan semata-mata berdiri di samping mereka yang dimuliakan oleh jabatan. Pemuda-pemuda yang mengukur keberhasilan bukan dari seberapa dekat mereka dengan elite, melainkan dari seberapa nyata manfaat yang mereka hadirkan bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling sering berfoto dengan kekuasaan, tetapi siapa yang tetap setia pada nurani ketika kekuasaan menguji arah berpihaknya. Dan mungkin, Indonesia Emas 2045 bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri di panggung negara, melainkan siapa yang paling rendah hati bersujud di hadapan penderitaan rakyatnya.

Read Entire Article