Pilkada Lewat DPRD dan Dalih Efisiensi: Ancaman bagi Demokrasi Lokal

5 days ago 7
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Sumber: IlustriI dibuat oleh CHATGPT

Pilkada oleh DPRD kembali diwacanakan dalam perdebatan publik nasional. Alasannya terdengar masuk akal: pilkada langsung dianggap mahal, rawan konflik, penuh politik uang, dan melelahkan secara administratif. Di tengah desakan efisiensi anggaran dan stabilitas politik, usulan ini tampak seperti solusi rasional atas berbagai persoalan demokrasi lokal.

Namun justru di sinilah letak masalahnya. Ketika efisiensi dijadikan jawaban tunggal, kita perlu bertanya: efisiensi untuk siapa, dan dengan harga apa?

Dalam banyak kasus, bahasa efisiensi tidak bekerja netral. Ia sering menjadi alasan rasional untuk membatasi partisipasi rakyat dan memindahkan keputusan politik dari ruang publik ke ruang elite. Demokrasi direduksi menjadi soal kelancaran prosedur, bukan lagi soal kedaulatan rakyat. Persis seperti yang di katakan oleh Anne Applebaum dalam Twilight of Democracy bahwa, ketidaknyamanan terhadap kompleksitas dan pluralisme adalah faktor yang membuat ide-ide otoritarian lebih menarik secara emosional, bahkan jika itu berarti mengubah mekanisme demokrasi.

Pembusukan politik lewat frasa "Efisiensi"

Akhir-akhir ini kata “efisiensi” adalah kata yang rasanya paling banyak muncul di pemerintahan Prabowo-Gibran. Kata ini seolah-olah adalah mantra mujarab bagi setiap persoalan, seakan segala sesuatu yang baik ukurannya adalah efisiensi. Hal tersebutlah yang saat ini terjadi dalam konteks wacana kepala daerah dipilih lagi oleh DPRD. Wacana tersebut mengemuka dari beberapa elit partai politik, yang kelihatannya putus asa dengan kompleksitas dan masalah demokrasi, atau mungkin wacana tersebut semata karena hitung-hitungan agenda politik yang lebih besar.

Sebagaimana dikemukakan Colin Hay, efisiensi kerap diposisikan sebagai solusi tunggal untuk menyelesaikan berbagai persoalan struktural dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Dalam wacana ini, efisiensi tidak sekadar menjadi pertimbangan teknis, melainkan bertransformasi menjadi semacam ideologi politik: standar kebenaran utama yang dianggap harus segera diwujudkan. Namun, narasi efisiensi dalam usulan pengembalian pemilihan kepala daerah kepada DPRD tidak pernah berdiri netral. Sebaliknya, ia bekerja sebagai bahasa teknokratis yang berfungsi mendepolitisasi kedaulatan rakyat dan menormalisasi pengalihan pengambilan keputusan publik ke ruang-ruang elite yang tertutup

Dalam kerangka tersebut, wacana kepala daerah di pilih lagi oleh DPRD dapat dibaca sebagai pembusukan politik. Proses pembusukan berlangsung tidak dengan cara meghancurkan institusi formal, melainkan dengan menghapus kapasitas warga untuk berpartisipasi secara bermakna. Hay menyebut ini sebagai anti-politics discourse, yaitu wacana yang tidak menolak kekuasaan, tetapi menolak keterlibatan publik dalam menentukan arah kekuasaan. Dalam konteks ini pemilihan kepala daerah dipindahkan dari rakyat ke DPRD dengan dalih efisiensi biaya dan dan meminimalisir konflik horizontal

Di sisi lain, demokrasi langsung melalui pemilihan kepala daerah oleh rakyat justru merupakan instrumen penting untuk memastikan bahwa kebijakan publik tidak terputus dari kehendak warga. Partisipasi publik dalam pemilihan langsung bukan hanya sarana penentuan pemimpin, tetapi juga arena pendidikan politik bagi masyarakat. Proses ini memungkinkan warga belajar mengenai akuntabilitas, kompetisi politik, dan konsekuensi pilihan kolektif. Apabila pemilihan kepala daerah dikembalikan kepada DPRD, yang terjadi bukanlah efisiensi, melainkan potensi menguatnya praktik suap-menyuap dan korupsi politik yang semakin sulit dipantau dan diawasi. Keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan publik berisiko lahir dari ruang-ruang gelap negosiasi elite yang sarat kompromi, alih-alih dari kehendak rakyat.

Lebih jauh, apabila keluhan utama elite partai politik berkaitan dengan tingginya biaya penyelenggaraan pilkada, maka persoalan tersebut semestinya diarahkan pada perbaikan tata kelola politik, bukan dengan mengganti sistem pemilihan. Masalah mendasarnya bukan terletak pada mekanisme pemilihan langsung, melainkan pada rendahnya akuntabilitas partai politik dalam mengelola rekrutmen kandidat dan pendanaan politik. Ironisnya, meskipun elite politik kerap mengeluhkan mahalnya ongkos politik, klaim tersebut tidak tercermin dalam laporan dana kampanye yang mereka serahkan secara resmi.

Anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, menegaskan bahwa “laporan dana kampanyenya normal dan cenderung di bawah rata-rata. Artinya, aktor politik membelanjakan politik biaya tinggi tersebut di ruang-ruang gelap yang tidak akuntabel.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa asumsi mengenai efisiensi anggaran politik melalui pemilihan kepala daerah oleh DPRD bukan hanya problematis, tetapi juga mengandung kesalahan logika.

Oligarki dan Penyempitan Arena Demokrasi Lokal

Dalam sejarahnya, politik indonesia memang tidak pernah lepas dari fenomena kekuasaan oligarki dalam kanal-kanal politik. Bahkan, partai politik menjadi instrument penting bagi oligarki untuk menguasai sumber daya alam dan ekonomi indonesia. Sudah banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana oligarki sebagai aliansi se...

Read Entire Article