Nilai Anjlok, Ada yang Salah di Kelas

1 week ago 29
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Mau dibawa Kemana Pendidikan Kita? ( Sumber : Ilustrasi dibuat AI)

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Nasional 2025 bikin banyak orang geleng-geleng. Rata-rata Matematika cuma 36,10, Bahasa Inggris bahkan lebih rendah: 24,93. Kita bisa saja menyalahkan siswa “kurang belajar”, tapi data ini terlalu keras untuk dibantah: nilai jatuh bukan hanya karena murid tidak mampu, tapi karena kelas tak lagi mengajar seperti dulu.

Masalahnya berlapis. Kurikulum terus ganti nama, format, dan istilah, tapi substansi pembelajaran jalan di tempat. Setiap ganti menteri, ganti pula gaya kurikulumnya. Guru dan siswa kelelahan beradaptasi, sementara pemahaman konsep dasar tak kunjung kuat. Istilahnya keren, “Capaian Pembelajaran”, “Modul Ajar”, tapi apa untungnya kalau waktu habis untuk form, bukan memperdalam logika?

Ini bukan sekadar keluhan guru, tapi juga dijelaskan teori pendidikan. Menurut Lev Vygotsky, belajar baru bermakna kalau ada interaksi yang mendorong penalaran. Tapi apa daya? Kelas jadi tempat mengeksekusi format, bukan mendiskusikan konsep. Kita sibuk di atas kertas, tapi kosong di ruang kelas.

Belum selesai soal kurikulum, guru terjepit beban administrasi. Evaluasi kinerja berbasis aplikasi, laporan digital, unggah sana-sini, semuanya makan waktu. Di atas kertas itu “akuntabilitas”. Di lapangan, guru jadi buruh data yang kehilangan tenaga untuk mengajar. Padahal, riset John Hattie dengan tegas bilang: yang paling memengaruhi keberhasilan belajar adalah kualitas interaksi guru dengan murid, bukan rapor administrasi.

Bagaimana dengan siswa? Jatuhnya nilai TKA juga terkait motivasi. Menurut Bernard Weiner, siswa hanya berusaha kalau ada hubungan jelas antara upaya dan hasil. Tapi TKA tidak dihitung untuk kelulusan atau seleksi sekolah. Akhirnya? Banyak siswa menganggapnya formalitas. Tesnya nasional, tapi urgensinya lokal: nol.

Lalu muncul ironi di tingkat kebijakan. Pemerintah ingin data berkualitas buat laporan internasional, termasuk perbandingan dengan PISA. Tapi di kelas, siswa diminta santai karena hasilnya tidak berdampak. Kita ingin angka tinggi, tapi menciptakan sistem yang tidak mendorong keseriusan. Kontradiktif? Ya, banget.

Yang bikin tambah miris, ketimpangan tetap ada. Sekolah di kota bicara AI, coding, metaverse; sekolah di wilayah 3T masih fokus listrik dan buku. Standar sama, fasilitas beda, tapi nilai diukur serempak. Wajar kalau hasil nasional jadi timpang.

Akhirnya, TKA 2025 bukan cuma rapor siswa, tapi rapor sistem. Bukan semata anak-anak kita yang belum mampu, tapi kelas-kelas kita yang kehilangan daya mengajar.

Masalah ini tidak akan selesai dengan istilah baru, aplikasi baru, atau slogan baru. Yang kita butuhkan sederhana tapi sulit: stabilitas kurikulum, waktu bernapas untuk guru, dan evaluasi yang benar-benar dihargai siswa. Karena kalau nilai terus anjlok, bukan murid yang pertama kali harus kita salahkan.

Pertanyaannya justru: ada yang salah di kelas atau ada yang salah dengan cara kita mengurus kelas?

Read Entire Article