Kemajuan digital menyebabkan banyaknya fenomena digital yang memunculkan berbagai istilah baru. Istilah ini hadir berupa meme "Laki-laki tidak bercerita, tapi … ” yang kerap hadir di media sosial. Meme tersebut biasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan kaum Adam yang sukar mendapatkan ruang aman untuk bercerita.
Istilah lain yang biasa digunakan seperti "Laki-laki tidak bercerita, tapi tiba-tiba ngopi di Indomaret", "Pria sejati lahir untuk menghadapi badai, bukan mencari tempat berlindung", dan lain sebagainya. Fenomena ini menunjukkan adanya bias gender dari banyak orang, sehingga memunculkan istilah tersebut. Maka dari itu, apakah munculnya istilah "Laki-laki tidak bercerita, tapi …” sekadar candaan atau bentuk tekanan sosial?
Banyak orang masih beranggapan bahwa laki-laki yang bercerita adalah pribadi yang lemah karena hal tersebut tidak sesuai dengan stigma yang berlaku di masyarakat. Salah satu stigma yang masih berlaku adalah anggapan bahwa laki-laki harus memiliki ketangguhan fisik dan mental. Ketika seorang laki-laki bercerita tentang masalah pribadinya, sering muncul anggapan bahwa laki-laki tidak bisa menanggung beban emosional yang ia miliki.
Hal tersebut membuatnya tidak memenuhi standar maskulinitas yang diterima masyarakat, khususnya "ketangguhan mental". Akibatnya, banyak laki-laki akhirnya memilih diam atau mencari kesibukan lain untuk mengalihkan pikirannya, seperti bermain game online atau melakukan hobi lainnya.
Pemikiran tersebut berkembang menjadi pola yang kemudian menjadi budaya, hingga dalam kajian ilmiah dikenal dengan istilah toxic masculinity. Istilah tersebut merujuk pada tekanan sosial yang menuntut pria untuk selalu terlihat kuat, agresif, dan penekanan emosi. Pola tersebut seringkali merugikan kesehatan mental pria, terutama karena minimnya dukungan emosional. Toxic masculinity juga dapat dipahami sebagai konstruksi sosial patriarki yang membatasi ekspresi emosi dan memaksakan perilaku "maskulin" yang tidak sehat.
Candaan Menjadi Alternatif Emosi
Dalam dunia digital, fenomena ini akrab muncul dalam bentuk meme atau candaan di media sosial. Terkadang, meme tersebut digunakan sebagai candaan oleh laki-laki yang sulit mengungkapkan emosinya secara langsung. Banyak laki-laki beranggapan bahwa dengan adanya candaan berupa meme menjadi alternatif untuk mendapatkan dukungan emosional dari warga media sosial.
Adanya perasaan dan pemikiran yang sama dengan laki-laki lain juga membuat mereka lebih diterima, sehingga beban emosional menjadi berkurang. Alih-alih memilih konsultasi dengan ahli, banyak laki-laki yang merasa takut akan stigma maskulinitas justru mengalihkan beban emosinya melalui candaan yang di media sosial guna mendapat dukungan sesama.
Akan tetapi, adanya candaan berupa meme bukan menjadi solusi bagi laki-laki yang kesulitan mengungkapkan emosi, melainkan berpotensi menjadi sesuatu yang ternormalisasi. Laki-laki cenderung memilih diam dan enggan mencari bantuan, khususnya bantuan profesional. Tanpa disadari, candaan tersebut tetap menjadi bukti bahwa stigma maskulinitas masih belum menjadi jawaban atas permasalahan ruang aman emosional bagi laki-laki.
Laki-laki yang Berani Bercerita Seharusnya Dipandang Kuat, Bukan Lemah
Dari berbagai pembahasan di atas, adanya stigma maskulinitas atau dalam kajian ilmiah dikenal toxic masculinity bukan sekadar candaan, melainkan masalah sosial yang berpotensi menjadi tekanan sosial. Tekanan tersebut menuntut laki-laki yang mengalami kesulitan emosional memilih untuk diam, hingga akhirnya mencari alternatif berupa ruang digital dan memunculkan candaan berupa meme “Laki-laki Tidak Bercerita”. Maraknya candaan ini seharusnya mendorong kita menjadi pribadi yang peka terhadap perasaan tanpa memandang jenis kelamin tertentu.
Pasalnya, tidak hanya perempuan, laki-laki juga dapat mengalami kesulitan emosional, walaupun perbedaannya terletak pada cara pengungkapannya. Oleh karena itu, laki-laki juga membutuhkan ruang aman untuk didengar, guna meringankan beban emosional yang dialami. Tidak hanya itu, penting untuk dipahami bahwa laki-laki yang berani bercerita tentang masalahnya seharusnya dipandang sebagai pribadi yang kuat, bukan pribadi yang lemah, karena ia telah berani mengungkapkan isi hatinya di tengah maraknya stigma maskulinitas. Apabila stigma tersebut terus dilestarikan, tekanan sosial ini juga akan terus mengekang kebebasan berekspresi bagi laki-laki dan membuat permasalahan ini terus berulang tanpa penyelesaian.

3 hours ago
3







































