Mengapa Perempuan Selalu Dituntut, Sementara Laki-laki Selalu Dimaklumi?

1 week ago 11
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Pekerjaan rumah bukan soal gender, tetapi tanggung jawab yang belum dibagi setara. (Ilustrasi dihasilkan oleh AI).

Ada satu hal yang jarang dipertanyakan dalam kehidupan sehari-hari: mengapa perempuan harus selalu bisa banyak hal, sementara laki-laki yang tidak bisa mengurus pekerjaan rumah justru dianggap biasa? Ketimpangan ini tidak hadir tiba-tiba. Ia tumbuh, dipelihara, dan dinormalisasi dari rumah ke rumah, dari generasi ke generasi.

Beban Serba Bisa yang Sejak Lama Dianggap Wajar

Sejak kecil, perempuan kerap dibesarkan dengan tuntutan serba bisa. Ia harus tahu cara memasak, membersihkan rumah, mengurus adik, menjaga sikap, sekaligus tetap rajin belajar. Ketika gagal memenuhi salah satu peran itu, label “tidak becus” mudah disematkan. Perempuan dinilai dari seberapa mampu ia memenuhi ekspektasi sosial, bukan dari siapa dirinya sebenarnya.

Sebaliknya, anak laki-laki yang tidak bisa menyapu atau memasak sering kali dibela dengan satu kalimat sederhana: maklum, namanya juga laki-laki. Ketidakmampuan mereka tidak dianggap sebagai masalah, melainkan sesuatu yang akan “dipelajari nanti” atau bahkan tidak perlu dipelajari sama sekali.

Pola ini terus berlanjut hingga dewasa. Banyak perempuan yang sudah bekerja di ruang publik, namun tetap diposisikan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik. Lelahnya kerap tak terlihat, karena pekerjaan rumah dianggap kewajiban alami, bukan kerja yang membutuhkan waktu dan tenaga.

Ketika Ketidakmampuan Laki-laki Dinormalisasi oleh Budaya

Yang lebih problematis, ketidakmampuan laki-laki justru dinormalisasi oleh budaya. Laki-laki yang tidak bisa memasak, mencuci, atau mengurus rumah tangga jarang dianggap gagal. Bahkan ketika mereka “membantu” pekerjaan rumah, pujian sering kali datang berlebihan, seolah itu adalah tindakan luar biasa, bukan tanggung jawab bersama.

Standar ganda ini secara perlahan membebaskan laki-laki dari tanggung jawab domestik, sekaligus membebani perempuan dengan ekspektasi yang tidak ada habisnya. Perempuan dituntut serba bisa, sementara laki-laki diberi ruang untuk tidak mampu tanpa konsekuensi sosial yang berarti.

Padahal, pekerjaan rumah bukanlah kodrat biologis. Ia adalah keterampilan hidup dasar yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Ketika hanya satu gender yang diwajibkan menguasainya, ketimpangan berubah menjadi sesuatu yang tampak normal, meski sejatinya tidak adil.

Sudah saatnya pertanyaan ini diajukan dengan jujur: mengapa perempuan selalu dituntut, sementara laki-laki selalu dimaklumi? Selama standar ganda ini terus dipelihara, kesetaraan akan berhenti sebagai slogan. Keadilan baru benar-benar hadir ketika tanggung jawab dibagi setara, dan kemampuan tidak lagi diukur berdasarkan gender, melainkan sebagai bagian dari menjadi manusia dewasa.

Read Entire Article