Yogyakarta tidak melulu soal riuhnya klakson di Malioboro atau antrean panjang di Tugu. Bergeser sedikit ke arah selatan, ada sebuah kawasan yang menawarkan ritme berbeda. Di sini, aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum sisa lilin batik, menciptakan suasana yang oleh warga lokal disebut tentrem.
Inilah Prawirotaman. Sebuah ruang pertemuan lintas budaya yang kini menjadi primadona bagi wisatawan mancanegara yang merindukan sisi personal dari Kota Gudeg.
Sejarah Prawirotaman bukanlah lembaran baru. Nama kawasan ini diambil dari keluarga bangsawan Prawirotomo, yang menerima hadiah tanah dari Keraton Yogyakarta pada abad ke-19.
Dahulu, gang-gang di sini adalah markas para prajurit pemberani yang melawan penjajah. Seiring waktu, identitasnya bergeser menjadi kampung batik yang masyhur, hingga akhirnya bertransformasi menjadi pusat penginapan bagi pelancong dunia sejak era 1990-an.
Berbeda dengan kawasan wisata yang sering kali terasa "plastik", Prawirotaman justru meruntuhkan sekat antara tamu dan tuan rumah. Di sini, hostel backpacker dan kafe-kafe estetik berdiri berdampingan langsung dengan rumah warga.
Sulisno (50), seorang pemilik warung makan rumahan yang sudah menetap selama 15 tahun, merasakan betul keunikan ini.
“Di sini rasanya lebih hidup, tapi tidak melelahkan. Kami bisa bertemu orang dari berbagai kota dan negara, tapi tetap merasakan suasana kampung. Nek jare wong Jowo iku tentrem,” ungkap Sulisno.
Rasa nyaman yang sama dirasakan oleh Anna Müller (29), wisatawan asal Jerman. Baginya, Prawirotaman memberikan kemewahan yang tidak bisa dibeli: rasa menjadi bagian dari lingkungan lokal.
"Saya merasa seperti tinggal di lingkungan lokal, bukan di area wisata yang terlalu ramai," katanya singkat.
Prawirotaman adalah bukti bahwa pariwisata tidak harus membunuh identitas. Meski lampu-lampu temaram dan musik akustik menghiasi malam, nilai-nilai kebersamaan dan toleransi khas Yogyakarta tetap menjadi fondasi utama.
Kawasan ini bukan sekadar destinasi untuk berfoto atau sekadar tempat singgah. Prawirotaman adalah potret keberhasilan Yogyakarta dalam merangkul dunia luar tanpa sedikit pun kehilangan jati dirinya.
Thalita Amanda Zeta Salsabila Mahasiswi SI Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

1 week ago
21





































