Melawan Pelecehan Verbal, Ancaman, Doxing, dan Manipulasi, terhadap Perempuan

1 week ago 21
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Keamanan digital bukan bonus, ia adalah fondasi penting bagi kesetaraan gender (Gambar: ChatGPT Image)

Pada awal kemunculannya, ruang digital terasa seperti surga kebebasan. Semua orang bisa bicara, bersuara, dan didengar tanpa harus punya jabatan, modal besar, atau koneksi elite. Dunia maya seolah meruntuhkan batas geografis dan hierarki sosial.

Gerakan #MeToo yang dimulai sejak 2006 mengubah percakapan global tentang kekerasan berbasis gender. Media sosial kala itu menjelma menjadi ruang aman tempat perempuan berbagi pengalaman pahit yang selama ini terpaksa disimpan rapat-rapat.

Tarana Burke dalam Me Too Movement (2018) menyebut solidaritas digital sebagai kekuatan yang menumbuhkan keberanian kolektif. Twitter (sekarang X) pun berubah menjadi panggung global bagi suara perempuan dari berbagai belahan dunia. Kesaksian demi kesaksian menciptakan tekanan sosial nyata.

Kasus Harvey Weinstein menjadi bukti bahwa suara kolektif perempuan mampu mengguncang struktur kekuasaan yang selama ini terasa kebal. Pada masa itu, teknologi benar-benar terasa berpihak pada keadilan gender.

Ilustrasi gender. Foto: Lim Yong Hian/Getty Images

Sayangnya, euforia itu tidak bertahan lama. Ruang digital yang dulu terasa aman kini berubah menjadi ladang ancaman. Teknologi melesat jauh lebih cepat dibanding etika sosial penggunanya.

Institute of Development Studies melalui laporan "Online Violence Against Women" (2021) mencatat eskalasi kekerasan digital secara global. Bentuk kekerasannya kini bukan cuma satu dua, melainkan lebih dari empat puluh jenis. Mulai dari pelecehan verbal, ancaman, doxing, manipulasi, hingga peretasan akun. Media digital pun berubah menjadi ruang yang melelahkan secara emosional. Optimisme digital perlahan bergeser menjadi kecemasan struktural.

Kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi atau Technology-Facilitated Gender-Based Violence (TFGBV) menjadi persoalan utama. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa dampaknya sangat luas.

Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menjelaskan bahwa TFGBV merugikan perempuan secara fisik, sosial, bahkan politik. Dalam UNiTE Campaign Brief (2024), disebutkan bahwa kekerasan ini menghambat partisipasi publik perempuan. Dunia virtual ternyata tidak netral. Ia justru memperpanjang kekerasan dunia nyata dan perlahan menggerus rasa aman perempuan.

Akar persoalannya bukan hal baru: misogini. Kate Manne dalam Down Girl (2018) menjelaskan misogini sebagai sistem penghukuman sosial. Sistem ini bekerja untuk “menertibkan” perempuan yang dianggap melampaui batas yang ditentukan.

Ilustrasi media digital. Foto: sdecoret/Shutterstock

Di dunia digital, sistem ini diperkuat oleh algoritma. Komunitas manosphere tumbuh subur dan menyebarkan kebencian terhadap perempuan secara sistematis. Teknologi—alih-alih netral—justru mempercepat penyebaran ide-ide diskriminatif. Ketimpangan kuasa makin terang terlihat di ruang virtual.

Situasi menjadi semakin rumit dengan hadirnya kecerdasan buatan. Pornografi deepfake muncul sebagai ancaman serius. Security Hero dalam Deepfake Report (2023) mencatat lonjakan konten deepfake hingga 550 persen.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 98 persen korbannya adalah perempuan. Wajah dimanipulasi tanpa persetujuan. Identitas digital dirampas begitu saja. AI membuat pelaku semakin sulit dilacak. Kekerasan ini memang tanpa sentuhan fisik, tetapi dampaknya bisa menghancurkan hidup seseorang.