Langkah Mundur Demokrasi? Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD

1 week ago 7
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi DPRD. Foto: Shutterstock

Wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali mengemuka dalam beberapa waktu terakhir. Alasan yang dikemukakan beragam, mulai dari efisiensi anggaran, stabilitas politik lokal, hingga tingginya ongkos politik dalam pilkada langsung yang dinilai tidak sebanding dengan manfaatnya.

Harus diakui, pilkada langsung memang menyisakan banyak persoalan, mulai dari politik uang, polarisasi sosial, hingga tingginya biaya kontestasi.

Namun, di balik argumen-argumen tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang tidak boleh diabaikan: Apakah gagasan ini justru membawa kita mundur dari capaian demokrasi yang telah diperjuangkan sejak Reformasi?

Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD ini tidak hadir begitu saja. Ia menguat di tengah fase konsolidasi politik pasca-pemilu, ketika konfigurasi kekuasaan nasional dan daerah tengah ditata ulang.

Dalam situasi politik yang semakin pragmatis, sebagian elite melihat mekanisme pemilihan melalui DPRD sebagai jalan pintas untuk menyederhanakan kontestasi, meredam ketidakpastian, dan mengamankan stabilitas pemerintahan daerah.

Namun, pendekatan semacam ini berisiko menempatkan stabilitas elite di atas prinsip kedaulatan rakyat.

Ilustrasi Pemilu. Foto: Dok Kemenkeu

Pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat bukanlah kebijakan yang lahir tanpa proses sejarah. Ia merupakan koreksi atas praktik masa lalu, ketika kepala daerah dipilih oleh elite politik melalui DPRD, sebuah mekanisme yang terbukti sarat kepentingan, rentan transaksi politik, dan kerap menjauh dari aspirasi publik. Menghidupkan kembali sistem lama ini—betapa pun dibungkus dengan narasi efisiensi—patut dicermati secara kritis.

Belajar dari Sejarah: Pilkada DPRD dan Warisan Orde Baru

Pada masa Orde Baru, pemilihan kepala daerah melalui DPRD menjadi alat legitimasi kekuasaan pusat. Kepala daerah lebih banyak berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat ketimbang representasi kepentingan rakyat di daerah. DPRD kala itu pun bukan institusi yang sepenuhnya bebas, melainkan berada dalam kendali kekuasaan eksekutif dan kekuatan politik dominan.

Praktik tersebut melahirkan kepala daerah yang minim akuntabilitas publik. Rakyat tidak memiliki ruang untuk menentukan siapa yang memimpin daerahnya, apalagi untuk mengevaluasi dan “menghukum” secara politik melalui mekanisme pemilihan. Reformasi 1998 kemudian membuka jalan bagi perubahan besar, termasuk desentralisasi dan demokratisasi di tingkat lokal.

Pilkada langsung yang diterapkan pasca-reformasi merupakan wujud pengembalian kedaulatan kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa kepala daerah bukan “titipan elite”, melainkan pemimpin yang memperoleh mandat langsung dari warga. Mengembalikan pemilihan kepada DPRD berarti mengabaikan pelajaran penting dari sejarah demokrasi kita sendiri.

Hak Warga Negara dan Kedaulatan Rakyat

Ilustrasi Demokrasi. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Dalam negara demokrasi, memilih dan dipilih adalah hak dasar warga negara. Pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi instrumen utama untuk menjamin hak tersebut. Rakyat tidak hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang berdaulat menentukan arah kepemimpinan daerahnya.

Pemilihan melalui DPRD—meskipun secara formal dilakukan oleh wakil rakyat—tidak selalu mencerminkan kehendak mayoritas warga. Dinamika politik di parlemen daerah kerap dipengaruhi oleh kompromi elite, kepentingan partai, bahkan transaksi politik jangka pendek. Dalam konteks ini, suara rakyat berisiko tereduksi menjadi sekadar angka kursi, bukan pilihan langsung atas figur pemimpin.