Moskow (ANTARA) - Kerusuhan di kota Hamadan di Iran barat menewaskan enam orang dan menyebabkan kerusakan signifikan pada properti pribadi dan publik, menurut laporan media pemerintah Iran pada Jumat.
Dalam pemberitaannya, stasiun televisi IRIB tidak memberikan rincian tentang kerusuhan yang meletus pada Kamis. Penyiar itu juga tidak menyebutkan identitas para korban tewas.
Menurut laporan sejumlah media, wilayah barat Iran merupakan bagian negara yang paling rawan protes sejak dimulainya gelombang kerusuhan baru-baru ini.
Aksi protes pada 8 Januari tersebut diserukan oleh Reza Pahlavi, keturunan Shah Iran yang digulingkan pada 1979.
Sejumlah rekaman video beredar di media sosial yang menunjukkan protes massal di berbagai wilayah negara itu. Tak lama kemudian, layanan internet terganggu di seluruh negeri.
Aksi protes di Iran dimulai pada akhir Desember di tengah melemahnya mata uang nasional, rial. Para pengunjuk rasa mengeluhkan gejolak nilai tukar yang tajam dan dampaknya terhadap harga grosir dan eceran.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Iran sedang mengalami periode inflasi tinggi, dengan Bank Sentral menetapkan tingkat inflasi tahunan sebesar 38,9 persen.
Nilai tukar dolar AS yang tidak resmi, yang berada di sekitar 50.000 rial (sekitar Rp844) sebelum penarikan AS dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018, kini telah melonjak menjadi sekitar 1,4 juta rial (sekitar Rp23.619) di pasar terbuka.
Sumber: Sputnik-OANA
Baca juga: Iran kecilkan risiko eskalasi, tuding AS dan Israel picu protes
Baca juga: Pemimpin tertinggi Iran ingatkan demonstran soal campur tangan asing
Penerjemah: Katriana
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
2





































