Pagi itu udara dingin menusuk perlahan, tetapi menghadirkan rasa akrab yang menenangkan. Garut seolah berbicara lirih, mengajak melihat wajah lain di luar bayang-bayang dodol. Penulis pun melaju ke Sukaregang, kawasan denyut industri kulit Garut.
Di sepanjang jalan, toko-toko berdempetan memamerkan jaket, tas, dan sepatu kulit. Aroma khas kulit menguar di udara, menandai wilayah para perajin. Sukaregang bukan sekadar tempat belanja, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah dan kerja keras lintas generasi.
Sejarah Sukaregang membawa kita mundur ke awal abad ke-20. Pada masa kolonial Belanda, sekitar 1920-an, kawasan ini mulai dikenal sebagai tempat pengolahan kulit. Menurut Aviantrini (2025), kulit saat itu digunakan untuk jok delman dan pelana sepeda.
Catatan kolonial dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (Stibbe, 1919) juga menyebut wilayah Garut sebagai daerah potensial pengolahan hasil peternakan, termasuk kulit, karena iklim pegunungan dan ketersediaan ternak.
Kondisi geografis Garut yang dingin menuntut bahan kuat dan tahan lama. Kulit menjadi pilihan utama, sekaligus menumbuhkan keterampilan menyamak yang kemudian mengakar kuat di masyarakat.
Aktivitas penyamakan kulit di Priangan, termasuk Garut, juga tercatat dalam laporan ekonomi kolonial De Inlandsche Nijverheid in Nederlandsch-Indië (Boeke, 1927). Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa industri rumahan berbasis keterampilan lokal berkembang pesat di wilayah pedalaman Jawa Barat.
Sukaregang menjadi contoh bagaimana kebutuhan praktis masyarakat kolonial dan lokal mendorong lahirnya industri kulit yang berkelanjutan.
Pasca kemerdekaan Indonesia, peran tokoh lokal semakin menentukan arah industri ini. Warga Sukaregang kerap menyebut Haji Muhtar dan Haji Usman sebagai perintis penyamakan kulit secara mandiri. Mereka bekerja dengan alat sederhana, tetapi memiliki visi jangka panjang.
Estafet usaha lalu dilanjutkan generasi berikutnya, seperti Haji Ayub dan Haji Ujang Solihin. Dalam catatan Aviantrini (2025), para tokoh ini bukan hanya memproduksi barang, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi warga.
Keterampilan membuat kerajinan kulit di Sukaregang tidak lahir dari pendidikan formal. Ilmu diwariskan melalui pengalaman sehari-hari dan kebiasaan turun-temurun. Anak-anak belajar dengan melihat dan membantu orang tua mereka.
Mereka mengenali tekstur kulit sejak usia dini. Wawan Ridwan dalam "Dinamika Industri Jaket Kulit Garut di Era Modern" (2024) menegaskan bahwa keahlian perajin Sukaregang terbentuk dari kebiasaan panjang, bukan dari buku teks. Bahkan, beberapa alat penyamakan peninggalan Belanda masih digunakan hingga kini.
Pada masa kolonial, produk kulit Sukaregang bersifat fungsional dan terbatas. Setelah Indonesia merdeka, arah industri mulai berubah. Jaket kulit muncul sebagai produk unggulan.
Menurut Hakim Ghani dalam "Piazza Firenze dan Kebangkitan Industri Kulit Garut" (2024), jaket kulit berkembang karena kebutuhan masyarakat Garut akan pakaian hangat dan tahan lama. Seiring waktu, fungsi jaket bergeser menjadi gaya. Kulit tidak hanya melindungi tubuh, tetapi juga membentuk identitas pemakainya.
Kini, produk kulit Sukaregang sangat beragam. Jaket tetap menjadi primadona, tetapi bukan satu-satunya andalan. Tas, sepatu, dompet, sabuk, hingga gantungan kunci ikut diproduksi. Setiap produk dibuat dengan pertimbangan jenis kulit.
Kulit domba Garut dikenal paling lembut dan ideal untuk jaket. Kulit sapi dan kerbau lebih keras sehingga cocok untuk sepatu dan tas. Para perajin memahami karakter bahan dengan sangat baik dan memperlakukan kulit seperti sahabat kerja.

5 days ago
16





































