Beijing (ANTARA) - Pemerintah Kamboja mengumumkan telah menangkap dan mengekstradisi ke China seorang konglomerat yang dituduh menjalankan perjudian daring besar-besaran.
Kementerian Luar Negeri China menyebut penangkapan Ketua Prince Holding Group Chen Zhi di Kamboja yang kemudian dibawa ke China sebagai bentuk tanggung jawab bersama untuk memberantas perjudian daring.
"Selama beberapa waktu, China telah aktif bekerja sama dengan negara-negara termasuk Kamboja untuk menindak kejahatan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi dengan hasil yang signifikan. Pemberantasan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (8/1).
Kementerian Dalam Negeri Kamboja mengatakan Ketua Prince Holding Group Chen Zhi (38 tahun) dan dua warga negara China lainnya ditangkap dan diekstradisi pada Selasa (6/1) atas permintaan pihak berwenang China.
Dalam siaran televisi di China, Chen digambarkan sebagai "pemimpin sindikat kejahatan perjudian dan penipuan transnasional besar".
Chen, yang lahir di China sehingga merupakan warga China tapi sebelumnya punya kewarganegaraan Kamboja meski sudah dicabut, ini menghadapi dakwaan dari Amerika Serikat dan Inggris dengan berbagai dakwaan terkait penipuan dan pencucian uang.
"China siap bekerja sama dengan negara-negara tetangga termasuk Kamboja untuk meningkatkan kerja sama penegakan hukum, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat serta menjaga pertukaran dan kerja sama antara negara-negara kawasan," ungkap Mao Ning.
Jaksa penuntut Amerika Serikat mendakwa Chen dengan tuduhan menjadi dalang penipuan siber multinasional, menggunakan bisnisnya yang lain untuk pencucian uang dan kekerasan terhadap pekerja.
Pihak berwenang AS juga menyita aset Chen Zhi termasuk properti senilai setidaknya 100 juta dolar AS dan mata uang kripto senilai 14 miliar dolar AS.
Chen dituduh menipu 250 warga Amerika hingga jutaan dolar, dengan salah satu korban kehilangan 400.000 dolar AS dalam mata uang kripto.
Baca juga: Kemlu RI pulangkan 9 WNI dari Kamboja, 7 diduga korban online scam
Prince Group disebut mengoperasikan lebih dari 100 bisnis di 30 negara dengan jaringan pusat penipuan terutama di Kamboja dan Myanmar yang telah menipu banyak korban di berbagai negara.
Sementara pihak berwenang Inggris membekukan bisnis dan aset Chen di Inggris, termasuk sebuah rumah mewah senilai 12 juta euro dan gedung perkantoran senilai 100 juta euro di London.
Adapun Singapura baru melakukan penyelidikan pada 30 Oktober setelah mengumumkan penyitaan aset keuangan milik Chen senilai lebih dari 150 juta dolar Singapura (114 juta dolar AS) dan satu kapal pesiar.
Di Taiwan, polisi menyita 26 mobil mewah termasuk Ferrari, Bugatti, dan Porsche, sedangkan polisi Hong Kong menyita aset keuangan. Ketiga otoritas tersebut sedang melakukan investigasi terhadap Chen.
Namun belum jelas dakwaan apa yang dihadapi Chen. Media lokal China menyebut Chen Zhi merupakan otak di balik jaringan penipuan daring lintas negara terbesar.
Kelompok kriminal yang ia pimpin menggunakan bisnis legal sebagai kedok, menjalankan berbagai modus penipuan seperti "sha zhu pan" (penipuan asmara/investasi), untuk mengelabui korban yang tidak menyadari apa pun agar menyerahkan uang mereka kemudian hasil kejahatan dipindahkan menggunakan mata uang kripto.
Chen Zi disebut lahir pada 1987 di desa nelayan kecil di Provinsi Fujian dan tidak tamat sekolah menengah untuk merantau.
Ia pernah mendirikan perusahaan gim daring dan sempat melakukan pembajakan server gim ilegal.
Pada 2010, Chen Zhi lari ke Kamboja membawa hasil kejahatan dan membuat identitas baru sebagai "pengembang properti" kemudian pada 2014 ia mendapat kewarganegaraan Kamboja.
Pada 2015, Chen mendirikan Prince Group dengan fokus pengembangan properti kemudian mendirikan Prince Bank dan pada 2020 bahkan mendirikan maskapai penerbangan di Kamboja.
Sejak 2017, Chen Zhi pernah menjabat sebagai penasihat sejumlah menteri dan bahkan perdana menteri. Media Kamboja mengambarkan Chen Zhi sebagai “dermawan yang murah hati".
Prince Group sebelumnya membantah keterlibatan dalam penipuan dan mengklaim telah memutus hubungan dengan kawasan penipuan daring.
Media menyebut hingga 2025, Prince Group mengendalikan lebih dari 10 lokasi ilegal di Kamboja. Dua lokasi saja memiliki "peternakan ponsel" dengan 1.250 unit ponsel dan mengoperasikan lebih dari 76.000 akun media sosial palsu untuk menipu.
Baca juga: KP2MI: Ada tren peningkatan kasus online scam WNI di Kamboja
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
3





































