Ankara (ANTARA) - Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency/HRANA) melaporkan pada Minggu (4/1) bahwa gelombang protes di Iran telah menyebabkan 20 orang tewas dan hampir 1.000 orang ditangkap.
Menurut laporan rinci lembaga pers yang didirikan pada 2009 oleh para aktivis HAM Iran itu, demonstrasi yang telah memasuki hari kedelapan berturut-turut ini telah menyebar ke sedikitnya 222 lokasi di 78 kota dan 26 provinsi.
Aksi massa mencakup unjuk rasa di jalanan, pemogokan buruh, serta aksi yang dipimpin oleh mahasiswa universitas dengan sedikitnya 990 orang telah ditangkap sejak awal protes, meskipun HRANA menyebut jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
HRANA juga mencatat sebanyak 17 universitas terlibat dalam gelombang protes ini, yang terus berlanjut meskipun aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan dan melakukan berbagai upaya untuk membubarkan massa.
Sedikitnya 20 orang tewas selama kerusuhan berlangsung, termasuk seorang anggota aparat keamanan dan penegak hukum, menurut laporan tersebut.
Selain itu, setidaknya 51 orang lainnya terluka yang sebagian besar diakibatkan oleh tembakan peluru karet dan butiran peluru plastik yang dilepaskan oleh aparat keamanan.
Korban tewas terdiri dari mahasiswa, buruh, dan warga sipil, dengan rentang usia antara 16 hingga 45 tahun.
HRANA juga mengonfirmasi bahwa seorang pengacara bernama Nasser Rezaei Ahangarany dipukuli oleh aparat keamanan saat protes di Khorramabad pada 3 Januari.
Secara terpisah, kantor berita Kurdpa melaporkan sedikitnya 30 orang terluka dalam demonstrasi di Malekshahi.
Lebih lanjut, HRANA menuturkan bahwa penangkapan yang telah dikonfirmasi terjadi di berbagai kota dan melibatkan baik individu maupun kelompok.
Penangkapan massal dilaporkan terjadi di kota-kota seperti Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan, dengan banyak dari mereka dilaporkan dipindahkan ke penjara-penjara setempat.
Beberapa penangkapan dikaitkan dengan aktivitas di media sosial, sementara lainnya terjadi selama bentrokan di jalanan.
Adapun gelombang protes di Iran dipicu oleh lonjakan inflasi, menurunnya daya beli masyarakat, ketidakstabilan pasar, serta meluasnya ketidakamanan pekerjaan.
HRANA mencatat bahwa banyak slogan demonstran berfokus pada kesulitan ekonomi, kritik terhadap tata kelola pemerintahan, dan tuntutan kebebasan sipil, bukan pada satu isu tunggal.
Protes tidak terbatas pada pusat-pusat kota besar di Iran, melainkan juga diikuti oleh kota-kota kecil serta beragam lapisan masyarakat.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Trump ancam AS turun tangan Jika Iran tindak brutal demonstran
Baca juga: Khamenei: hubungan buruk Iran-AS tak dapat diperbaiki
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

6 days ago
10





































