Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (2/1) waktu AS atau pada hari pertama transaksi tahun 2026. Kontrak berjangka Brent ditutup turun 10 sen ke level USD 60,75 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 10 sen ke USD 57,32 per barel.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (3/1), penurunan harga minyak di awal tahun ini merupakan yang terdalam sejak 2020, dipengaruh sentimen. Salah satunya investor khawatir pasokan berlebih di tengah meningkatnya risiko geopolitik, mulai dari perang di Ukraina hingga tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela oleh Amerika Serikat.
Dari sisi geopolitik, ketegangan kembali mencuat di Eropa Timur. Presiden AS Donald Trump yang memediasi pembicaraan antara Rusia dan Ukraina, menghadapi situasi yang tetap memanas.
Kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada tahun baru, meski dialog untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun terus diupayakan. Ukraina juga dilaporkan mengintensifkan serangan ke infrastruktur energi Rusia untuk memutus sumber pendanaan Moskow bagi operasi militernya.
Tekanan terhadap pasokan minyak global turut datang dari Amerika Latin. Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang disebut beroperasi di sektor minyak Venezuela. Meski demikian, Maduro menyatakan negaranya terbuka menerima investasi Amerika Serikat, memperkuat kerja sama pemberantasan narkoba, serta menggelar pembicaraan serius dengan Washington.
Terbaru, AS melakukan pengeboman terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu (3/1) waktu setempat. Di saat yang bersamaan, pasukan elite AS, Delta Force, menangkap Maduro dan istrinya pada Sabtu (3/1) waktu setempat. Meski begitu, harga minyak belum bereaksi hingga aksi tersebut karena sedang libur akhir pekan.
Ketegangan juga meningkat di Timur Tengah. Trump mengancam akan membantu demonstran di Iran jika aparat keamanan menindak keras aksi protes yang telah berlangsung beberapa hari dan dinilai sebagai salah satu ancaman domestik terbesar bagi otoritas Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, krisis antara produsen minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait konflik Yaman kian memburuk setelah penerbangan di Bandara Aden dihentikan.
Meski berbagai risiko geopolitik tersebut mencuat, pasar minyak dinilai relatif tidak bereaksi signifikan. Analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar lebih fokus pada fundamental pasokan.
“Terlepas dari semua kekhawatiran geopolitik ini, pasar minyak terlihat tidak terlalu terpengaruh. Harga minyak terkunci dalam kisaran perdagangan jangka panjang, dan ada perasaan bahwa pasar akan tetap dipenuhi pasokan apa pun yang terjadi,” ujar Flynn.
Pelaku pasar kini menanti rapat OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Mayoritas trader memperkirakan kelompok produsen minyak tersebut akan melanjutkan kebijakan menahan kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026. Analis Sparta Commodities June Goh menilai tahun ini akan krusial bagi arah kebijakan pasokan global.
“2026 akan menjadi tahun penting untuk menilai keputusan OPEC+ dalam menyeimbangkan pasokan,” kata Goh, seraya menambahkan bahwa China diperkirakan terus menambah cadangan minyak mentah pada paruh pertama tahun ini, sehingga memberi dasar penopang bagi harga minyak.
Sepanjang 2025, harga Brent dan WTI masing-masing anjlok ham...

1 week ago
7





































