Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyatakan Presiden Prabowo Subianto perlu menunjukkan peran diplomasi yang lebih kuat dalam merespons konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang strategis untuk mengambil peran aktif di tengah perbedaan sikap negara-negara terhadap konflik tersebut.
Hikmahanto menyarankan Presiden Prabowo menerapkan diplomasi ulang-alik atau shuttle diplomacy, yakni memfasilitasi dialog antara dua pihak yang berselisih tanpa harus mempertemukan mereka secara langsung.
“Kalau Malaysia kan mengutuk (penculikan Presiden Venezuela Maduro oleh Presiden AS Donald Trump), banyak negara yang juga mengutuk, tetapi ada juga seperti Perancis, Inggris itu yang mendukung. Singapura juga mengutuk ya, dia enggak setuju, tetapi kalau Indonesia, banyak yang bilang, kok Indonesia, hanya prihatin saja? Maka ini sekarang peluang Presiden Prabowo untuk melakukan apa yang disebut shuttle diplomacy, atau diplomasi ulang-alik,” kata Hikmahanto dalam Forum Kramat di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat.
Ia menilai Indonesia sebaiknya mendorong penurunan eskalasi konflik, terutama karena Indonesia telah ditetapkan sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk tahun 2026.
“Untuk itu ayo kita bicarakan baik-baik, karena waktu itu Bapak Presiden kan jadi ketua dari G20, jadi kalau misalnya ada peluang, mungkin peluang itu bisa dimainkan oleh Bapak Presiden. Kalau misalnya beliau bilang, oh iya kita harus jalan dengan kebutuhannya, minta supaya serangan itu diturunkan eskalasinya, maka kita bisa punya nilai di mata dunia,” ujar Hikmahanto.
Pandangan senada disampaikan Direktur The Indonesia Intelligence Institute, Ridlwan Habib. Ia menilai Presiden Prabowo memiliki cita-cita kepemimpinan global yang sejalan dengan Proklamator Indonesia, Sukarno, yang pernah mempersatukan kawasan Asia dan Afrika melalui Konferensi Asia-Afrika 1955.
Menurut Ridlwan, sebagai presiden yang sering melakukan kunjungan luar negeri, Prabowo seharusnya tampil lebih lantang untuk turut memberi peran dalam konflik AS-Venezuela.
“Bisa enggak kita berharap pada Presiden Prabowo menunjukkan sikap bahkan mungkin lebih dari Bung Karno? Karena sekarang di era Trump yang mohon maaf, 'agak gila begini', kita sungguh berharap pemimpin kita dengan keberanian yang muncul setidaknya bersuara keras, mengecam, mengutuk, atau apa saja, begitu, sehingga kemudian masyarakat Indonesia ini bangga punya seorang leader, pemimpin yang kewibawaannya berani menandingi Trump,” tuturnya.
Baca juga: CSIS: Serangan AS ke Venezuela bentuk kolonialisme baru
Baca juga: Rusia: Penangkapan Maduro bencana bagi ranah hubungan internasional
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
2





































