Densus 88 Antiteror Polri mengungkap sebuah grup chat internasional bernama The True Crime Community yang menyebar paham ekstrem ke anak-anak hingga remaja. Sejumlah 70 anak di Indonesia terpapar paham ekstrem karena bergabung pada grup itu maupun puluhan jejaring grup lainnya.
Juru Bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana menyebut komunitas itu kini menjadi fenomena di media sosial dengan propaganda mereka tentang paham white supremacy, neo nazi, dan lain sebagainya.
Mayndra menjelaskan bahwa komunitas ini tak dibentuk oleh kelompok tertentu, melainkan terbentuk secara sporadis mengikuti perkembangan teknologi.
“Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” ucap Mayndra di Mabes Polri, Jakarta pada Rabu (7/1).
Mayndra mengungkap kejadian kekerasan masif terjadi secara global akibat paham yang disebar melalui komunitas tersebut.
“Data global memperlihatkan, ini kami ambil beberapa contoh ya, dari Januari sampai dengan Desember (2025) hampir masif ya terjadi beberapa kekerasan,” ucap Mayndra.
“Yang pertama adalah pelaku Henderson Solomon berumur 17 tahun, melakukan penembakan di Antioch High School di Amerika, di awal tahun, 22 Januari 2025. Karena yang bersangkutan membenci dirinya berkulit hitam dengan paparan paham White Supremacist melalui media sosial,” ucap Mayndra.
Kekerasan juga terjadi di sebuah gereja katolik di Amerika yang dilakukan pria berusia 23 tahun yang terobsesi membunuh anak-anak.
“Kemudian ada Robin M. Westman, 23 tahun, pada bulan Agustus 2025 melakukan penembakan saat ibadah para murid di gereja Katolik di Amerika, karena terobsesi untuk membunuh anak-anak,” ucap Mayndra.
“Dan kemudian Trinity Shockley, 18 tahun, merencanakan penembakan juga di sekolah di Indiana Amerika pada bulan Februari 2025,” tambahnya.
Adapula kasus di Colorado, Amerika Serikat yang dilakukan anak berusia 16 tahun karena menganut paham antisemitism.
“Dan kemudian Desmond Holley, 16 tahun, sebagai pelaku penembakan Evergreen High School di Colorado US, pada bulan September 2025. Dikarenakan yang bersangkutan terpapar paham Antisemitism dan Defamation League,” ucap Mayndra.
Terakhir, sebuah kasus terjadi di Rusia baru-baru ini.
“Kemudian yang terbaru di Rusia, yaitu atas nama Mario Nouval, 15 tahun. Pelaku penusukan di Odintsovo, Moscow, Rusia pada tanggal 16 Desember 2025,” ucap Mayndra.
“Remaja ini bersenjatakan pisau melakukan penyerangan di sebuah sekolah di wilayah Moscow dan menewaskan seorang anak serta melukai seorang petugas keamanan. Komite Investigasi Rusia menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi di wilayah Moscow,” tambahnya.
Mayndra menyebut anak-anak di dalam komunitas itu saling menginspirasi. Terbukti dari pelaku di Rusia tersebut yang menuliskan ‘Jakarta Bombing 2025’ merujuk pada kejadian pengeboman SMAN 72 Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Nah, di dalam gagang senjat...

4 days ago
7





































