Dari sayuran, buah, hingga ikan, seluruh aktivitas dirancang untuk menopang pendapatan 35 Kepala Keluarga (KK) yang tergabung dalam kelompok tani.
Begitu kumparan memasuki kawasan Kampung Susun Bayam pada Selasa (6/1), hamparan lahan tanam langsung terlihat di sisi jalan setapak. Di satu sisi berdiri megah bangunan JIS, di sisi lain berjajar bedeng sayuran, polibag, serta tanaman jagung yang tumbuh rapat mengikuti pagar rusun.
Jalur pedestrian membelah area, sementara di kejauhan terlihat jembatan layang dan jaringan listrik tegangan tinggi.
Di bagian depan kawasan, lahan yang baru dipugar ditanami caisim (sawi hijau), timun lalap, bayam, hingga kembang kol. Beberapa tanaman masih muda tertata rapi di tanah merah yang baru diolah.
Di sisi lain, polibag disusun memanjang, sementara sebuah greenhouse difungsikan untuk menyimpan bibit semaian. Tak jauh dari situ, terdapat lima kolam tambak berisi lele, koi, nila merah dan hitam, serta patin.
Staf Hubungan Masyarakat Poktan Kampung Susun Bayam, Oman, mengatakan aktivitas pertanian ini kembali berjalan seiring dimulainya pemugaran lahan.
"Ini pugaran baru, tadinya dari ujung ke ujung kacang panjang semua, nah ini kita pugar jadi caisim (sawi hijau) sama timun lalap. Ini baru dibuka lagi buat (sektor) melon," ujar Oman kepada kumparan.
Meski kegiatan tanam sudah berjalan, hasil panen saat ini belum masuk ke pasar umum. Distribusi masih terbatas di internal kelompok dan lingkungan sekitar. Rencana penyerapan oleh pasar, termasuk kerja sama dengan PD Pasar Jaya juga belum mendapat kepastian.
"Untuk sementara ini belum ada, kalau dulu ada. Karena kita pemugaran baru lagi tahap awal, kayak kemarin dari Jakpro kan mau carikan pasar PD Jaya tapi sekarang belum ada kepastiannya," ungkap Oman.
Untuk itu, skema bisnis yang berjalan masih berbasis sirkulasi internal. Hasil panen dijual terbatas, kemudian digabungkan ke kas warga dan dibagi rata kepada anggota kelompok tani. Kata Oman, model ini dipilih agar roda usaha tetap berputar meski nilai transaksi belum besar.
Oman bercerita keunggulan urban farming Kampung Susun Bayam terletak pada penggunaan pupuk organik buatan sendiri dari limbah rumah tangga Rusun Kampung Bayam. Sisa buah, makanan, dan sampah dapur diolah menjadi pupuk. Sehingga warga tak bergantung pada pupuk bantuan pemerintah.
Oman mengungkapkan lewat cara itu bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan nilai jual karena produk diklaim lebih sehat.

4 days ago
12





































