Terdapat satu sosok yang menjadi pembicaraan pada demo besar di Iran saat ini. Sosok itu adalah putra dari shah (raja/kaisar) terakhir Iran, Reza Pahlavi (65).
Sepanjang demo dua pekan ini Pahlavi, acap kali mendukung demonstrasi besar di berbagai kota di Iran.
Pahlavi yang mengasingkan diri di AS terus menerus memuji demonstrasi menuntut perubahan rezim di Iran. Dia bahkan meyakinkan para demonstran supaya memperluas demo agar pemerintahan Republik Islam tumbang.
“Kami akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus represifnya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,” ucap Pahlavi lewat salah satu unggahannya di X seperti dikutip dari Reuters.
Pahlavi lahir pada 1960. Ayahnya Mohammad Reza Pahlavi tumbang akibat revolusi Islam pada 1979 yang dipimpin ulama Syiah, Ruhollah Khomeini.
Padahal jika kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi tidak tumbang, dirinya akan menjadi penguasa Iran. Saat ayahnya dilantik menjadi shah pada 1967 saat itu juga Reza Pahlavi diangkat sebagai putra mahkota Kekaisaran Iran.
Adapun dinasti Pahlavi tumbang di Iran gara-gara berbagai faktor. Namun, yang paling mencolok adalah gaya hidup mewah keluarga kerajaan di tengah kehidupan rakyat Iran yang sangat sulit saat itu.
Hampir sama seperti demo 2025-2026 ini, pada medio akhir 70-an inflasi di Iran menggila akibat upaya modernisasi ekonomi yang gagal dilakukan Mohammad Reza Pahlavi. Rakyat Iran yang turun ke jalan juga muak atas gaya tangan besi sang shah dan aparat keamanannya yang dikenal bengis, SAVAK.
Sejarah kemudian mencatat Pahlavi kabur dari Iran sebelum sang ayah tumbang. Ia kemudian ke AS untuk belajar menjadi pilot pesawat tempur.
Pahlavi pernah mengajukan diri bertempur untuk Irak saat negara itu sedang perang dengan Iran pada medio 1980-an. Tapi, keinginannya itu ditolak oleh Irak.
Lalu Pahlavi melanjutkan kehidupan di AS dan menjadi mahasiswa ilmu politik di sana.
Selama berada di pengasingan di AS, Pahlavi menikah dan mempunyai tiga anak. Di AS, Pahlavi mendapat dukungan dari diaspora serta warga Iran di sana lantaran kritik tajamnya pada pemerintahan Republik Islam Iran di bawah Ayatollah Ali Khamenei.
Saat Iran sedang dihantam demo, yang dipicu krisis ekonomi serta jatuhnya nilai mata uang rial, Pahlavi mendapati kenyataan pahit.
Barat, yang ketika ayahnya berkuasa menjadi sekutu dekat Iran, tak menunjukkan dukungan terhadap dirinya. Padahal Barat, khususnya AS, adalah musuh bebuyutan Republik Islam Iran yang dipimpin ulama Syiah.
Presiden AS Donald Trump, yang sempat menyatakan dukungan terhadap demonstran, pernah berujar belum tepat untuk bertemu Pahlavi.

6 hours ago
2





































