Jakarta (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) menilai peran China dalam gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja bersifat terbatas, karena upaya Beijing untuk mempertemukan kedua pihak dilakukan setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai.
Penilaian tersebut disampaikan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Michael George DeSombre dalam pengarahan pers virtual yang diikuti dari Jakarta, Jumat.
“Saya rasa saya benar-benar tidak mengetahui apa yang dilakukan China selain mengadakan sebuah pertemuan setelah gencatan senjata terakhir diberlakukan. Oleh karenanya, menurut saya tidak ada banyak hal terkait itu,” kata DeSombre.
Pada 29 Desember, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menjadi tuan rumah pertemuan trilateral yang melibatkan China, Wakil Perdana Menteri Kamboja sekaligus Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, serta pejabat militer senior dari ketiga negara.
Sehari setelah gencatan senjata Thailand dan Kamboja tercapai pada 27 Desember, Wang Yi juga menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn.
Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi menyatakan bahwa China terus memantau secara saksama situasi di perbatasan Kamboja-Thailand. Ia juga mendorong kedua negara untuk secara bertahap mewujudkan gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan, memulihkan hubungan bilateral, membangun kembali kepercayaan, serta mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sementara itu, DeSombre menyoroti keterlibatan langsung AS dalam proses menuju gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja. Ia menyebutkan bahwa Washington, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, berperan aktif dalam upaya pemulihan perdamaian.
“Pada 26 Juli, Presiden Trump turun tangan secara tegas dengan menelepon para pemimpin kedua negara dan mendesak mereka untuk menempuh jalur perdamaian, serta memperingatkan bahwa sejumlah inisiatif akan dihentikan sementara sampai pertempuran berakhir,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam waktu 24 jam setelah panggilan telepon tersebut, Kamboja dan Thailand sepakat mengirim delegasi ke Malaysia untuk mengikuti perundingan gencatan senjata yang difasilitasi bersama oleh Malaysia selaku Ketua ASEAN.
AS, lanjut DeSombre, juga secara aktif mengirimkan perwakilan untuk mengawal proses perundingan yang berlangsung dalam beberapa putaran, termasuk pada Agustus, Oktober, November, hingga akhirnya kesepakatan tercapai pada Desember.
Keterlibatan Washington disebut berlanjut hingga setelah gencatan senjata diberlakukan. DeSombre mengungkapkan bahwa dirinya berada di Bangkok, Jumat, dan akan melanjutkan perjalanan ke Phnom Penh, Sabtu, untuk mendukung stabilisasi pascagencatan senjata.
“Presiden Trump memberikan perhatian yang sangat besar untuk memastikan perdamaian di kawasan ini, sebagaimana juga di negara-negara lain. Menteri Luar Negeri Rubio, bersama seluruh jajaran di bawahnya, termasuk saya, terlibat secara aktif untuk memastikan hal tersebut terwujud,” kata DeSombre.
“Itulah salah satu alasan mengapa saya berada di Thailand hari ini, dan besok saya akan melanjutkan kunjungan ke Kamboja,” tambahnya.
Thailand dan Kamboja telah lama menghadapi sengketa perbatasan selama puluhan tahun, yang meningkat menjadi konflik bersenjata pada Juli ketika kedua negara saling menembakkan artileri dan melancarkan serangan udara.
Kedua negara kemudian menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 27 Desember 2025, yang mulai berlaku pada hari yang sama pukul 12.00 waktu setempat.
Baca juga: Thailand bebaskan 18 tentara Kamboja seiring gencatan senjata
Baca juga: Konflik Thailand-Kamboja reda, ribuan pengungsi pulang ke rumah
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
1





































