Apa itu hustle culture? Ini ciri & efek buruk gaya kerja ekstrem

1 day ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Jakarta (ANTARA) - Pernahkah merasa bersalah saat mengambil waktu istirahat di akhir pekan? Atau merasa tertinggal ketika melihat orang lain terus memamerkan pencapaian kerja mereka di media sosial tanpa henti? Jika iya, kondisi tersebut bisa disebut hustle culture.

Istilah hustle culture telah bertransformasi dari tren produktivitas menjadi fenomena sosial yang mengakar di kalangan profesional muda. Di mana budaya ini mendewakan kerja keras ekstrem dan memandang waktu luang sebagai sesuatu yang tidak produktif.

Fenomena ini juga menjadi sebuah gaya hidup yang memaksa seseorang untuk bekerja lebih keras, lebih lama, dan mengabaikan aspek kehidupan lainnya demi ambisi.

Namun sayangnya, banyak orang yang baru menyadari bahaya kondisi tersebut setelah mengalami burnout parah.

Lantas, apa itu hustle culture?

Melansir berbagai sumber, secara etimologis, hustle culture berasal dari istilah “hustle” yang bermakna dorongan agresif untuk bergerak lebih cepat.

Dalam ranah psikologi, fenomena ini diidentifikasi sebagai workaholism atau kecanduan kerja, sebuah istilah yang pertama kali dipopulerkan oleh Wayne Oates pada tahun 1971.

Hustle culture diartikan sebagai pola hidup yang memaksa individu untuk bekerja dengan intensitas dan kecepatan yang tinggi hingga melewati batas kapasitas dirinya.

Kondisi ini menciptakan lingkungan kerja yang hanya mementingkan produktivitas dan pencapaian ambisius, namun mengabaikan pentingnya jeda istirahat, kesehatan diri, maupun keseimbangan antara urusan profesional dan kehidupan personal.

Seseorang yang terjebak dalam lingkaran ini biasanya kehilangan batasan antara ruang privat dan pekerjaan. Mereka juga biasa mengabaikan kebutuhan dasar seperti istirahat dan perawatan diri karena menganggap waktu luang adalah penghambat produktivitas.

Meskipun sering dianggap sebagai standar emas dalam mengejar karier, pola hidup tanpa jeda ini dapat memicu stres oksidatif pada mental yang berujung pada burnout, depresi, hingga penurunan kualitas kerja secara jangka panjang.

Efek buruk hustle culture


1. Gangguan psikologis dan kecemasan
Ambisi berlebih sering memicu mentalitas tekanan untuk terus tampil sempurna. Jika tidak tercapai, akan menjebak individu dalam siklus kekhawatiran kronis serta ketakutan akan masa depan karier.

2. Rasa bersalah dan standar semu
Media sosial juga dapat memperparah persepsi bahwa istirahat adalah bentuk kemalasan. Akibatnya, muncul rasa bersalah saat seseorang mencoba bersantai karena terus membandingkan diri dengan standar produktivitas orang lain yang tampak tak kenal lelah.

3. Sikap apatis dan hilangnya kepuasan
Pengejaran pencapaian yang tanpa henti dapat membuat seseorang kehilangan rasa puas. Pada titik tertentu, segala pencapaian terasa tidak cukup, yang kemudian memicu sikap apatis terhadap kehidupan dan merusak kesejahteraan mental.

4. Positivitas toxic​​​​​​​
Menolak kegagalan dan ekspektasi realistis. Kesalahan kecil dianggap sebagai bencana besar, sehingga individu kehilangan ruang untuk berproses secara manusiawi karena tuntutan optimisme yang dipaksakan.

5. Penurunan kesehatan fisik secara sistemik
Kelelahan kronis akibat kurang tidur dan pola makan buruk juga dapat melemahkan sistem imun. Secara medis, bekerja lebih dari 55 jam per minggu terbukti meningkatkan risiko penyakit kritis seperti depresi, serangan jantung, dan stroke.

6. Ketidakseimbangan prioritas hidup
Fokus yang terobsesi pada karier mengorbankan hubungan sosial dengan keluarga dan teman. Selain itu, hilangnya waktu untuk perawatan diri (self-care) seperti olahraga dan meditasi, sehingga memperburuk kondisi stres.

7. Pengabaian sinyal tubuh​​​​​​​
Hustle culture membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap rasa lelah. Dengan mengabaikan sinyal fisik demi terus bekerja, individu sering kali baru menyadari kerusakan kesehatannya ketika sudah berdampak fatal dalam jangka panjang.

Kerja keras memang kunci kesuksesan, namun keseimbangan adalah kunci keberlanjutan hidup. Maka dari itu, jangan sampai ambisi mengejar mimpi jadi membuat kehilangan diri sendiri dan kesehatan yang tak ternilai harganya.

Cobalah untuk tetap menetapkan batasan yang sehat, mendengar sinyal tubuh, dan mengutamakan istirahat yang cukup.

Baca juga: Kematangan emosi jadi kunci kesiapan orang tua cegah kekerasan anak

Baca juga: Ketika sekolah tak lagi jadi rumah kedua

Baca juga: Langkah pendampingan psikologis untuk penyintas bencana

Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article