Jakarta (ANTARA) - Sejak Presiden James Monroe memaklumatkan politik luar negeri "Amerika untuk Amerika" pada 1823 --bahwa Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere) harus steril dari intervensi, pengaruh, dan kepentingan Eropa--, Amerika Serikat (AS) menganggap Benua Amerika adalah "halaman depan" mereka.
Akibatnya, setiap kekuatan luar yang mencoba masuk atau menanamkan pengaruh di "halaman" mereka itu akan dianggap sebagai undangan untuk intervensi dan bahkan invasi AS di benua tersebut.
Western Hemisphere merujuk kepada wilayah sebelah barat Eropa, yang secara geopolitik adalah wilayah yang berada di Benua Amerika, termasuk kepulauan Karibia.
"Doktrin Monroe" diaplikasikan pada tingkat ekstrem pada masa Perang Dingin, untuk mencegah komunisme internasional dan pengaruh Uni Soviet menancap di Benua Amerika, sehingga tidak menjadi ancaman bagi AS di depan hidungnya sendiri.
Pada periode itu, AS melancarkan intervensi di berbagai negara di selatan wilayah mereka tersebut.
Intervensi ini tak hanya dilakukan secara langsung lewat invasi dan serangan militer seperti dilakukan Donald Trump terhadap Nicolas Maduro baru-baru ini di Venezuela, tapi juga secara tidak langsung.
Apa yang terjadi pada Maduro mirip dengan yang menimpa Manuel Noriega di Panama yang diinvasi AS pada 1989, dan Grenada pada 1983.
Namun, ada kalanya invasi itu gagal seperti terjadi pada Invasi Teluk Babi di Kuba pada 1961.
Di luar itu, AS yang sejarahnya berlumuran darah dengan penaklukan asing di berbagai negara di seluruh dunia sejak merangkul Doktrin Monroe pada 1823, lebih sering melancarkan intervensi secara tak langsung, lewat kudeta yang disponsori oleh dinas intelijen mereka, CIA (Central Intelligence Agency).
Di antara yang bisa disebut adalah penggulingan Presiden Salvador Allende di Chile pada 1973, pendongkelan Presiden Jacobo Arbenz di Guatemala pada 1954, dan kudeta terhadap Presiden Joao Goulart di Brazil pada 1964.
Alasannya selalu demi demokrasi atau penegakan hukum, padahal yang muncul setelah para presiden yang dipilih secara demokratis itu digulingkan adalah para diktator lalim seperti Augusto Pinochet yang menggulingkan Allende di Chile pada 1973.
Baca juga: Wapres: Maduro tetap Presiden Venezuela
Baca juga: Pascaditangkap AS, Maduro dan Istri Tiba di New York dengan Pesawat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 week ago
5





































