REPUBLIKA.CO.ID, GROBOGAN -- Sebanyak 803 siswa dari berbagai sekolah di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), diduga mengalami keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari total terduga korban, 115 di antaranya harus menjalani perawatan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko, mengungkapkan, ratusan siswa di Grobogan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan pada Jumat (9/1/2026). Menu MBG terdiri dari nasi kuning, telur dadar, tempe orek, dan abon. MBG tersebut diolah dan disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grobogan Gubug Kwaron 1.
"Pas sore mulai terasa mual, muntah, dan berlanjut hingga Sabtu (10/1/2026)," ujar Djatmiko ketika dihubungi Republika, Selasa (13/1/2026).
Dia menambahkan, para siswa yang mengalami gejala keracunan berasal dari setidaknya 11 sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMK. Mereka tersebar di beberapa desa, seperti Desa Trisari, Ngroto, dan Penadaran.
Sekolah yang siswanya terdampak antara lain SMP Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto, SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto, SDN 1 Trisari, SDN 1 Penadaran, dan TK Ngroto. Menurut Djatmiko, siswa dengan gejala keracunan terbanyak berasal dari SMP dan SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto.
"Totalnya (siswa yang mengalami gejala keracunan) 803. Yang sudah diobati dan sembuh 688. Dari 803 dan 688 itu, ada 115 yang harus dirawat inap. Sudah dilakukan pengobatan, sudah sembuh 61, tinggal 54 (yang dirawat)," kata Djatmiko.
Dia mengungkapkan, ke-54 siswa tersebut dirawat di rumah sakit dan beberapa puskesmas. Menurut Djatmiko, gejala mual, sakit perurt, dan buang air besar yang mereka alami sudah mulai mereda. "Semoga hari ini sudah bisa sembuh semuanya," ujarnya.
Djatmiko mengatakan, pihaknya telah menguji sampel MBG yang diduga menjadi penyebab gejala keracunan. Dia menyebut, proses uji lab memakan waktu antara tujuh hingga sepuluh hari.

2 hours ago
2




































