Total utang pinjaman online (pinjol) masyarakat Indonesia terbaru mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025, tumbuh 25,45 persen dibanding tahun lalu.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai sebagian kenaikan pinjol didorong oleh tingginya aktivitas konsumsi pada akhir tahun, khususnya menjelang libur Natal 2025 dan tahun baru 2026. Kelompok usia produktif, terutama Gen Z dan milenial, dinilai paling rentan terjerat akibat kombinasi kebutuhan konsumsi, juga gaya hidup FOMO (fear of missing out).
"Jadi tentu ada kelompok masyarakat yang memang menggunakan pinjaman online. Terutama yang berkaitan dengan aktivitas konsumsi di akhir tahun. Apalagi kan di bulan setelahnya, masyarakat tahu bahwa akan ada momentum libur natal dan tahun baru," ujar Yusuf kepada kumparan, Sabtu (10/1).
Namun, Yusuf mengingatkan lonjakan ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya kasus gagal bayar pinjol dalam setahun terakhir.
"Nah sayangnya, penilaian yang pertama ini mengenai momentum pemanfaatan pinjol untuk kegiatan aktivitas libur Natal dan tahun baru. Ini perlu diantisipasi dengan melihat pandangan yang kedua, kalau kita ingat kan dalam setidaknya setahun ke belakang, masalah gagal bayar dari pinjaman online itu juga tidak kecil. Artinya juga rangkanya mengalami peningkatan," jelasnya.
Ia menilai ada kecenderungan masyarakat menggunakan pinjol untuk menutup kebutuhan konsumsi dan aktivitas sehari-hari, namun tidak dibarengi kemampuan menghitung risiko utang.
Yusuf juga menyoroti kesenjangan antara inklusi keuangan dan literasi keuangan. Menurutnya, kemudahan akses lewat fintech tidak diimbangi pemahaman yang cukup.
"Dan ini selaras dengan data dari OJK juga, masalah literasi keuangan. Jadi kalau kita bandingkan, inklusi keuangan kita itu datanya sudah semakin baik. Sayangnya kalau kita sandingkan dengan data, literasi keuangan itu tidak sebanding. Artinya angka literasi keuangan itu relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan inklusi keuangan," cakap Rendy.
Terkait pertumbuhan pinjol yang mencapai sekitar 25 persen secara tahunan (yoy), Yusuf menyebut fenomena ini merupakan gabungan antara pesatnya ekspansi industri fintech dan tingginya permintaan masyarakat.
"Ada kelompok masyarakat yang tadi membutuhkan biaya, tetapi dia kemudian belum mampu untuk mengkalkulasikan risiko, kemudian juga FOMO, gaya hidup FOMO itu juga menjadi faktor kenapa kemudian tingkat kegagalan bayar dari pindar itu mengalami peningkatan," ujarnya.
Soal kelompok usia, Yusuf mengatakan dominasi usia produktif membuat Gen Z dan milenial menjadi kelompok paling rawan terpapar pinjol.
"Iya, karena kelompok usia kita saat ini didominasi kelompok usia produktif ya, Gen Z, milenial. Maka kemungkinan besar ada pada kelompok usia tersebut gitu," ungkap Rendy.
Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengeklaim total utang pinjol warga RI saat ini sudah berada di level mengkhawatirkan, terutama karena banyak digunakan oleh kelompok unbankable.
"Menurut saya total utang pinjol saat ini cukup mengkhawatirkan karena sebagian besar yang menggunakan pinjol ini unbankable (kelompok masyarakat miskin dan pelajar/mahasiswa) yang pengin pinjam tapi persyaratan tidak berbelit," kata Esther.
Menurut Esther, sulitnya akses kredit perbankan bagi masyarakat nonformal menjadi faktor pendorong utama.
"Peningkatan pinjol karena akses kredit dari lembaga formal (bank) relatif sulit bagi mereka yang tidak/belum bekerja di sektor formal karena...

11 hours ago
5





































