Menikah Tanpa Berpikir

1 day ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Saya jujur prihatin—dan ya, marah.

Akhir-akhir ini linimasa media sosial dipenuhi konten yang menormalisasi pernikahan dini. Ia tampil dengan wajah yang tampak saleh: potongan dalil agama, cuplikan ceramah singkat, dan narasi ketakutan yang disederhanakan. Namun di balik itu, terdapat pola yang berulang dan berbahaya—kemalasan berpikir yang dilegitimasi atas nama iman.

Ketika seorang ustaz di TikTok berkata, “Kalau anak semester dua kuliah sudah minta menikah, jangan dilarang. Nikahkan saja, daripada zina,” lalu menutupnya dengan kisah, “Tuh kan, dilarang nikah malah hamil,” saya ingin bertanya dengan tegas: sejak kapan agama diajarkan dengan logika ketakutan seperti ini? Sejak kapan mendidik anak direduksi semata-mata menjadi urusan syahwat?

Logika semacam ini keliru sejak awal. Ia berangkat dari asumsi bahwa anak muda tidak memiliki akal, tidak mampu mengelola dorongan, dan tidak layak dilatih berpikir jangka panjang. Padahal inti pendidikan moral—baik dalam Islam maupun dalam ilmu psikologi—justru terletak pada kemampuan menunda, mengelola, dan mengarahkan hasrat dengan akal serta nilai. Psikolog perkembangan seperti Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg menegaskan bahwa kematangan pengambilan keputusan tumbuh melalui proses belajar, pengalaman, dan kedewasaan kognitif, bukan semata karena seseorang telah baligh atau siap secara biologis.

Masalah ini menjadi semakin serius ketika narasi pernikahan dini tidak hanya dibenarkan, tetapi juga dijual sebagai gaya hidup ideal. Kita menyaksikan konten viral seorang perempuan berusia 19 tahun yang menikah muda, lalu dengan penuh percaya diri menyatakan, “Kuliah itu scam,” sambil memamerkan keberhasilan bisnis hijab syar’i yang ia kelola. Ini bukan lagi sekadar pendapat pribadi. Ketika klaim semacam ini disebarkan ke ruang publik dengan jutaan penonton tanpa konteks, ia berubah menjadi racun sosial.

Yang ditonton publik bukan keseluruhan realitas hidupnya—bukan fakta bahwa ia mungkin memiliki keluarga penopang, modal ekonomi, jaringan sosial, atau privilese tertentu. Yang diserap mentah-mentah justru satu pesan sederhana namun menyesatkan: menikah muda adalah solusi, sementara pendidikan tinggi tidak penting. Sosiolog Pierre Bourdieu telah lama menjelaskan bahwa keberhasilan individu tidak pernah berdiri di ruang hampa; ia ditopang oleh modal ekonomi, sosial, dan kultural. Menghapus konteks ini sama saja dengan menyesatkan publik secara simbolik.

Dari sinilah kita bisa memahami mengapa kualitas umat terasa stagnan, mengapa literasi rendah, dan mengapa masyarakat mudah digerakkan oleh simbol agama tetapi miskin refleksi. Pola pikir yang terus direproduksi adalah pola pikir serba instan: yang penting sekarang. Kesalehan direduksi menjadi daftar centang—cepat berhijab, cepat menikah, soal ekonomi dianggap rezeki Allah semata, dan masa depan anak diserahkan pada harapan kosong. Selesai. Merasa aman. Seolah-olah telah lulus agama.

Padahal ini bukan ketakwaan, melainkan kecerobohan yang dibungkus kalimat suci. Tawakal dalam Islam datang setelah ikhtiar, setelah perencanaan, setelah belajar, dan setelah kesiapan. Bukan tawakal sejak awal karena enggan berpikir. Imam Al-Ghazali menempatkan akal sebagai fondasi tanggung jawab moral manusia. Mengabaikan akal berarti meruntuhkan etika itu sendiri.

Tanpa disadari, pesan berbahaya sedang dikirimkan kepada anak-anak dan remaja: jangan terlalu banyak berpikir, jangan terlalu lama sekolah, jangan banyak merencanakan hidup. Yang penting patuh dan cepat menikah, sisanya Allah yang mengurus. Padahal Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir (tafakkur), merenung (tadabbur), dan mempertimbangkan akibat jangka panjang. “Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44) dan “Agar mereka memikirkan akibatnya” (QS. Al-Hasyr: 18) menjadi penegasan bahwa iman tidak pernah dipisahkan dari akal. Islam tidak pernah mengajarkan hidup asal berjalan lalu menyerahkan kekacauan pada takdir.

Saya sampaikan ini dengan nada serius dan tegas: misi Rasulullah SAW bukan sekadar menjauhkan umat dari zina. Jika hanya itu, risalah Islam terlalu murah bagi peradaban sebesar ini. Misi beliau adalah mencerdaskan umat dengan perintah membaca, mematangkan akhlak—bukan sekadar ritual—serta menjadikan manusia berdaya dan bertanggung jawab.

Menikah dini semata-mata karena takut zina sering kali bukan tanda keimanan, melainkan tanda kegagalan mendidik. Mengapa tidak lebih banyak diajarkan bagaimana membangun relasi yang bermartabat? Bagaimana mengelola dorongan dengan akal dan nilai? Bagaimana menunda kesenangan demi masa depan yang lebih besar?

Tidak semua anak lahir dari keluarga dengan kondisi yang sama. Tidak semua pasangan muda memiliki jaring pengaman ekonomi. Bahkan ketika uang tersedia, kedewasaan mental dan emosional tidak bisa dibeli. Rumah tangga bukan konten romantis; ia adalah tanggung jawab panjang—kepada pasangan, kepada anak, dan kepada masa depan.

Kita pernah menyaksikan kasus anak seorang ustaz terkenal yang menikah sangat muda hingga berujung pada persidangan dan pemberitaan publik. Realitas sering kali jauh lebih kejam daripada narasi ceramah.

Jika hari ini kita menormalisasi kemalasan berpikir atas nama agama, mengejek pendidikan sebagai scam, dan mencurigai perencanaan hidup sebagai tanda kurang iman, maka mari jujur pada diri sendiri: kita bukan sedang menuju generasi emas, melainkan mencetak generasi yang mencemaskan.

Padahal Al-Qur’an menetapkan standar tinggi: kuntum khaira ummah—umat terbaik—yakni umat yang menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah (QS. Ali ‘Imran: 110). Umat terbaik bukan yang paling cepat menikah, melainkan yang kuat ilmunya, matang akalnya, luhur akhlaknya, serta bertanggung jawab atas pilihannya.

Karena itu, izinkan saya menutup dengan ajakan sederha...

Read Entire Article