Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 0,15 persen hingga 0,17 persen pada 2040.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan proyeksi tersebut merupakan hasil riset dan analisis menggunakan model Overlapping Generation Indonesia (OG IDN).
“PDB atau GDP (Gross Domestic Product) meningkat moderat dengan puncaknya di angka 0,15 sampai 0,17 persen pada awal 2040-an,” ucap M Rizal Taufikurahman di Jakarta, Kamis.
Ia menuturkan kenaikan PDB tersebut didorong oleh peningkatan produktivitas tenaga kerja yang terjadi secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi kesehatan penerima manfaat program saat mereka memasuki usia kerja berkat pemenuhan gizi dari program MBG selama masa sekolah.
Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa terdapat potensi penurunan dari sisi pasar tenaga kerja sebesar 0,05 persen hingga 0,07 persen, suplai tenaga kerja sebesar kurang dari 0,06 persen, serta upah riil sebesar 0,6 persen.
Namun, Rizal menilai hal tersebut bukan disinsentif kerja, tapi merupakan dampak dari efisiensi produktivitas sehingga tenaga kerja dapat menghasilkan output (hasil kerja) yang sama atau lebih besar dengan periode kerja yang lebih singkat.
“Penurunan ini cerminan dari income effect, di mana peningkatan kesejahteraan membuat kemungkinan besar rumah tangga itu mengurangi jam kerja tanpa menurunkan utilitas, dengan asumsinya ini adalah tenaga kerja formal,” ujarnya.
“Untuk itu, secara agregat MBG memang tidak melemahkan market (pasar) tenaga kerja, dan itu terbukti dari penyerapan jumlah tenaga kerja, tetapi meningkatkan efisiensi melalui perbaikan kualitas modal (sumber daya) manusia,” lanjut Rizal.
Selain dampak terhadap produktivitas tenaga kerja, ia juga menyoroti dampak MBG terhadap kesejahteraan antargenerasi, khususnya dalam konteks konsumsi rumah tangga.
Ia menuturkan peningkatan kesehatan yang dihasilkan dari asupan gizi yang lebih baik akan berkorelasi positif dengan pola konsumsi masyarakat di masa depan, mengingat konsumsi rumah tangga akan mengalami perbaikan seiring dengan meningkatnya kualitas kesehatan antargenerasi.
Namun, pihaknya menemukan bahwa konsumsi rumah tangga justru diproyeksikan naik lebih tinggi pada kelompok masyarakat dengan kelas ekonomi menengah dan tinggi, dibandingkan kelompok masyarakat kelas bawah.
“Ini menunjukkan apa? Bahwa efek kesejahteraan itu tidak hanya terkonsentrasi pada rumah tangga miskin. Di rumah tangga miskin ini tetap naik konsumsinya meskipun kecil, tapi manfaat ini lebih banyak terinternalisasi dalam bentuk perbaikan gizi anak, tidak ekspansi konsumsi secara langsung,” kata Rizal.
Baca juga: Purbaya yakin Program MBG bisa cepat serap anggaran di kuartal I 2026
Baca juga: Bappenas: Transformasi belanja negara diarahkan ke Danantara dan MBG
Baca juga: Indef: Pemilahan sampah kunci utama untuk implementasi PSEL
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.



































