Baleg DPR Soroti Dewas Hambat Kinerja BPKH: Bukan Pengawasan, tapi Eksekutif

12 hours ago 5
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Saleh Partaonan Daulay. Foto: ANTARA/Dewanto Samodro

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR dari Fraksi PAN, Saleh Partaonan Daulay, menilai kewenangan Dewan Pengawas (Dewas) Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) justru berpotensi menghambat kinerja lembaga tersebut.

Hal itu disampaikannya dalam rapat Baleg DPR dengan Kementerian Haji dan Umrah serta BPKH di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/2).

“Kelihatannya memang dari penjelasan yang disampaikan oleh Pak Kepala Dewas (Firmansyah N Nazaroedin) kelihatannya memang ada beberapa aspek dari tugas-tugas Dewas itu yang sifatnya bukan pengawasan, tapi lebih pada sifatnya eksekutif. Begitu kurang lebih,” ujar Saleh.

Suasana rapat Baleg DPR dengan Kementerian Haji dan Umrah serta Dewan Pengawas BPKH di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera diluruskan, terutama karena BPKH merupakan lembaga yang mengelola keuangan dalam skala besar.

Ia menekankan pentingnya penataan ulang kewenangan Dewas agar tidak tumpang tindih dengan fungsi eksekutif.

“Dari sisi kelembagaan, terutama kelembagaan keuangan seperti ini, itu tentu harus perlu kita luruskan dan tertibkan lagi,” kata Saleh.

Saleh mencontohkan, dalam regulasi sebelumnya, Dewas memiliki kewenangan besar dalam menentukan arah investasi BPKH, termasuk memutuskan apakah suatu investasi boleh masuk ke bidang bisnis tertentu atau tidak. Kewenangan tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap kecepatan pengambilan keputusan.

“Mengapa ini penting saya sampaikan? Karena sebagai contoh misalnya, Dewas itu kan juga memiliki kewenangan, malah justru dalam undang-undang yang lama, untuk menentukan apakah investasi itu boleh dimasukkan ke sesuatu bidang bisnis tertentu atau tidak. Dan itu besar sebetulnya,” ujarnya.

Ketua Dewan Pengawas BPKH Firmansyah N. Nazaroedin menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Ia menilai kewenangan tersebut justru memperlambat kinerja BPKH. Proses pengawasan yang berjalan bersamaan dengan kewenangan eksekutif dinilai membuat pengambilan keputusan menjadi tidak efisien.

“Jadi karena itu tentu ini sangat menghambat. Malah di dalam paparannya Badan Penyelenggara tadi disebut itu salah satu kelemahan daripada Dewas bersinergi seperti yang sekarang ini ada itu justru memperlambat. Karena tadi mereka kan akan mengawasi dan seterusnya,” lanjutnya.

Kewenangan Dewas BPKH Harus Ditertibkan

Karena itu, Saleh mendorong agar kewenangan Dewas ditertibkan dan dikurangi, meskipun ia tidak mempermasalahkan jika jumlah anggota Dewas ditambah.

Ia menilai penambahan jumlah anggota Dewas sah-sah saja selama fungsi dan kewenangannya diperjelas.

“Ini saya kira itu menjadi penting catatan kita itu supaya soal kewenangan Dewas ini akan kita kurangilah. Tapi saya setuju anggota Dewasnya diperbanyak nggak apa-apa,” ucap Saleh.

Ia menyarankan agar jumlah anggota Dewas ditambah menjadi ganjil demi mekanisme pengambilan keputusan yang demokratis.

“Nah udahlah kita tambah nanti 8 tambah 1 gitu Ketua. Jadi 9. Mana ada yang urusan begini genap, itu nggak boleh. Harus ganjil. Ya kan kita demokrasi,” katanya.

Saleh menegaskan, penataan kewenangan Dewas menjadi kunci agar BPKH dapat bekerja lebih efektif dalam mengelola dana haji, tanpa terhambat proses birokrasi yang berlapis.

“Jadi karena itu saya setuju kalau dari sisi jumlah keanggotaan Dewas mungkin boleh ditambah, tapi kewenangannya ditertibkan,” kata dia.

Read Entire Article