Jakarta (ANTARA) - Amerika Serikat optimistis bahwa gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja yang telah disepakati pada 27 Desember, setelah konflik di wilayah perbatasan, akan dapat dipertahankan secara berkelanjutan.
Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Michael George DeSombre saat berbicara pada pengarahan pers virtual yang diikuti ANTARA dari Jakarta, Jumat, menuturkan bahwa penyelesaian konflik perbatasan memang kerap mengalami kesulitan, tetapi yang terpenting penyelesaiannya kini telah tercapai.
“Saat ini kami melihat bahwa Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur telah dilaksanakan dan gencatan senjata telah berlaku. Kami optimistis bahwa gencatan senjata tersebut akan dapat dipertahankan,” katanya.
Thailand dan Kamboja telah terlibat dalam sengketa perbatasan selama puluhan tahun yang meningkat menjadi konflik bersenjata pada Juli. Kedua belah pihak telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada 27 Desember 2025 dan berlaku di hari yang sama pada pukul 12.00 waktu setempat.
Sebelumnya pada 26 Oktober, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menandatangani Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur di Malaysia untuk mengakhiri ketegangan perbatasan dan konflik bersenjata.
Penandatanganan perjanjian yang berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN itu, disaksikan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden AS Donald Trump.
Seraya menuturkan optimisme akan kelanggengan gencatan senjata negara bertetangga itu, lebih lanjut, DeSombre menyampaikan bahwa Amerika Serikat menyampaikan harapan agar perbatasan di kedua sisi dapat kembali dibuka secara normal dan geliat aktivitas ekonomi dapat kembali terasa.
“Sebagai bagian dari hal tersebut, kami berharap perbatasan dapat dibuka kembali dalam waktu dekat agar pelaku usaha yang memiliki kegiatan di kedua sisi perbatasan Thailand–Kamboja dapat kembali beroperasi secara normal,” ucapnya.
Menanggapi penembakan mortir oleh pasukan Kamboja di wilayah perbatasan pada 6 Januari, DeSombre menuturkan bahwa kejadian tersebut merupakan insiden persenjataan yang tidak disengaja.
Komandan militer dari kedua negara, sebutnya, langsung menyelesaikan insiden tersebut dan situasi dapat terkendali tanpa adanya tindakan pembalasan dari pihak Thailand.
“Cara kedua negara menangani insiden tersebut benar-benar menunjukkan kekuatan serta kemungkinan besar keberlanjutan gencatan senjata ini,” tambah dia.
Baca juga: AS gelontorkan 45 juta dolar AS untuk stabilisasi Thailand, Kamboja
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

1 day ago
1




































