Venezuela dan Kembalinya Hukum Rimba Global?

19 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Santa Fe, Caracas, Venezuela. (Foto: Edgardo Ibarra, under the Unsplash license)

Saya membayangkan miliaran manusia di seantero jagat ini geleng-geleng kepala atas tindakan pemerintah Trump terhadap Nicolás Maduro, Presiden Venezuela.

Bukan semata karena sosok Maduro yang kontroversial, melainkan karena cara negara adidaya kembali mempertontonkan praktik lama: menyingkirkan pemimpin negara lain dengan logika kekuatan, bukan dengan mekanisme hukum internasional yang disepakati bersama.

Peristiwa ini segera melampaui soal Venezuela semata. Ia berubah menjadi cermin telanjang tentang arah dunia hari ini—apakah masih tunduk pada aturan, atau justru kembali pada hukum rimba yang diselimuti jargon demokrasi dan keamanan.

Kedaulatan Negara di Bawah Tekanan Kekuasaan

Ilustrasi PBB. Foto: Viktor_IS/Shutterstock

Dalam hukum internasional modern, kedaulatan negara adalah prinsip fundamental. Piagam PBB secara tegas melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial dan kemerdekaan politik negara lain, kecuali atas mandat Dewan Keamanan atau dalam konteks pembelaan diri.

Namun praktik sering berjalan berlawanan dengan norma. Pakar Hubungan Internasional dari Stanford, Stephen D. Krasner, sejak lama menyebut kedaulatan sebagai organized hypocrisy: diagungkan dalam pidato, dilanggar dalam praktik ketika bertabrakan dengan kepentingan kekuatan besar.

Kasus Venezuela menegaskan tesis ini. Amerika Serikat bertindak seolah hukum internasional bersifat opsional, tergantung siapa pelakunya. Bagi Rusia dan Tiongkok, momen ini menjadi “hadiah strategis”. Tanpa harus mengirim satu batalion pun, mereka cukup menunjuk pada tindakan Washington sebagai bukti bahwa tatanan berbasis aturan selama ini diterapkan secara selektif.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) melambaikan tangan di samping istrinya Cilia Flores (kiri) selama demonstrasi Hari Pemuda di Caracas pada 13 November 2025. Foto: Juan BARRETO / AFP

Di hadapan negara-negara Global South, narasi ini sangat kuat: hukum internasional keras ke negara lemah, lunak kepada negara kuat.

Perang Diplomatik dan Logika Preseden Berbahaya

Rusia dan Tiongkok sadar betul bahwa melawan Amerika Serikat secara militer di Venezuela adalah bunuh diri strategis. Namun diplomasi, opini global, dan framing moral justru menjadi medan tempur yang lebih menguntungkan.

Pemikir Utama English School, Hedley Bull, menegaskan bahwa tatanan internasional bertahan bukan hanya karena keseimbangan kekuatan, melainkan juga karena legitimasi bersama atas aturan. Ketika legitimasi runtuh, yang tersisa hanyalah kekuatan telanjang.

Ilustrasi kekuasaan. Foto: Shutterstock

Inilah yang kini dieksploitasi Moskow dan Beijing. Dengan mengangkat istilah “preseden berbahaya” sebagaimana juga disinggung Sekretaris Jenderal PBB, mereka membangun argumen bahwa jika seorang presiden bisa “dicabut” dari negaranya oleh kekuatan asing, tak ada lagi jaminan keamanan bagi negara mana pun.

Narasi ini bukan sekadar retorika. Ia dapat digunakan kelak untuk membenarkan tindakan Rusia di Eropa Timur atau Tiongkok di Taiwan, dengan dalih bahwa dunia sudah lebih dulu mengubur aturan mainnya.

Implikasi Global dan Potensi Perlawanan

Apakah ini berarti dunia akan diam? Tidak sepenuhnya. Perlawanan terhadap Amerika Serikat kemungkinan tidak hadir dalam bentuk konfrontasi langsung, tetapi melalui resistensi berlapis: penguatan blok non-Barat, dedolarisasi terbatas, perlawanan hukum internasional, hingga pembangkangan simbolik di forum multilateral.

Negara-negara Global South belajar bahwa netralitas pasif tak lagi cukup; mereka dipaksa memilih sikap dalam dunia yang makin transaksional.