Regenerasi Politik yang Terjebak Patronase

2 weeks ago 13
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, Tertangkap OTT KPK (Gambar ilustrasi AI)

Kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, kembali mematahkan harapan publik bahwa regenerasi politik otomatis melahirkan kepemimpinan bersih. Di usia 32 tahun, Ade Kunang seharusnya menjadi simbol perubahan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: korupsi kembali menemukan jalannya, bahkan melalui relasi paling intim, keluarga.

Keterlibatan sang ayah dalam pusaran kasus ini menegaskan satu persoalan mendasar dalam politik Indonesia: problem utama bukan kekurangan pemimpin muda, melainkan kuatnya patronase lama yang diwariskan lintas generasi. Pemimpin muda kerap hadir hanya sebagai wajah baru, sementara pola kekuasaan tetap sama.

Pemimpin Muda sebagai Produk Politik

Dalam banyak kontestasi elektoral, figur muda sering dijadikan “produk politik” yang dijual dengan kemasan perubahan. Usia, gaya berpakaian, dan cara berkomunikasi yang kekinian dipromosikan untuk menciptakan kesan pembaruan. Namun di balik itu, sering kali ada aktor lama, keluarga, pemodal, atau elite politik yang tetap memegang kendali.

Pemimpin muda akhirnya tampil berkuasa secara formal, tetapi tidak merdeka secara substantif. Jabatan publik bukan lagi amanat rakyat, melainkan bagian dari skema pengembalian modal dan balas jasa. Dalam kondisi seperti ini, keputusan politik cenderung ditentukan oleh loyalitas, bukan kepentingan publik.

Ketika Keluarga Menjadi Pusat Kekuasaan

Kasus Bekasi juga membuka praktik shadow government, pemerintahan bayangan yang bekerja di luar struktur formal negara. Jabatan resmi hanya berfungsi sebagai tameng legal, sementara pengaruh nyata dijalankan oleh orang-orang terdekat yang tidak memiliki mandat publik dan luput dari mekanisme akuntabilitas.

Lebih mengkhawatirkan lagi, korupsi dalam relasi ayah dan anak menunjukkan bahwa penyimpangan telah dinormalisasi. Keluarga, yang seharusnya menjadi ruang pertama pendidikan moral, justru berubah menjadi tempat legitimasi praktik korup. Korupsi tidak lagi dianggap sebagai aib, melainkan sebagai strategi bertahan dalam politik yang mahal dan transaksional.

Dilema Loyalitas yang Salah Arah

Ada dilema etis yang sering luput dibahas: jebakan loyalitas keluarga. Dalam budaya kita, berbakti kepada orang tua adalah nilai luhur. Namun bagi pejabat publik, kesetiaan kepada keluarga yang bertabrakan dengan kepentingan rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat demokrasi.

Seorang pemimpin publik dituntut berani mengambil jarak bahkan memutus ketergantungan politik dengan keluarganya sendiri. Tanpa keberanian ini, pemimpin muda hanya akan menjadi perpanjangan tangan patron lama, sekaligus medium regenerasi korupsi.

Regenerasi yang Gagal Berubah

Kasus ini mengajarkan bahwa regenerasi kepemimpinan tidak cukup diukur dari usia. Selama patronase keluarga, ketergantungan modal, dan loyalitas sempit masih menjadi fondasi kekuasaan, pemimpin muda akan terus bergerak dalam bayang-bayang masa lalu.

Korupsi tidak mengenal generasi. Ia hidup dari kompromi moral dan keberanian yang tidak pernah diambil. Pembaruan sejati hanya mungkin lahir dari pemimpin yang berani berdiri mandiri, meski harus berjarak dari keluarga dan jejaring terdekatnya sendiri.

Tanpa keberanian itu, politik hanya akan terus mengganti wajah, tanpa pernah mengganti watak.

Read Entire Article