Jakarta (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) akan menyediakan pendanaan dengan total 45 juta dolar AS (sekitar Rp758 miliar) yang akan digunakan di antaranya untuk mendukung stabilisasi pasca tercapainya gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Michael George DeSombre dalam pengarahan pers virtual yang diikuti ANTARA dari Jakarta, Jumat.
“Saya dengan bangga mengumumkan bahwa kami akan menyediakan dana sebesar 15 juta dolar AS (Rp252 miliar) untuk stabilisasi perbatasan guna membantu pemulihan masyarakat serta mendukung para pengungsi,” kata DeSombre yang sedang berada di Bangkok terkait implementasi gencatan senjata.
Ia melanjutkan bahwa pendanaan lainnya senilai 10 juta dolar AS (Rp168 miliar) akan digunakan untuk operasi penjinakan ranjau dan pembersihan persenjataan yang belum meledak.
Sedangkan 20 juta dolar AS (Rp337,9 miliar) akan digunakan untuk berbagai inisiatif yang akan membantu kedua negara memerangi operasi penipuan dan perdagangan narkotika, beserta program terkait lainnya.
Pejabat Amerika Serikat itu menegaskan bahwa Amerika Serikat menaruh perhatian pada konflik perbatasan Thailand dan Kamboja dan menyambut baik perjanjian gencatan senjata antara kedua belah pihak yang telah disepakati pada 27 Desember lalu.
“Thailand dan Kamboja baru-baru ini menyepakati gencatan senjata setelah berminggu-minggu terjadi kembali pertempuran di wilayah perbatasan. Sebuah pencapaian yang disambut baik oleh Amerika Serikat, dengan pesan dukungan langsung dari Presiden Trump dan Menteri Luar Negeri Rubio,” ucap DeSombre.
Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, lanjutnya, telah terlibat secara langsung untuk memulihkan perdamaian pasca satu bulan eskalasi ketegangan di perbatasan Thailand dan Kamboja, yang menelan korban jiwa dan menyebabkan ribuan orang mengungsi.
Meski gencatan senjata telah tercapai, DeSombre menekankan bahwa Washington ingin terus mengawal implementasinya demi memajukan memajukan kepentingan bersama menuju kawasan Indo-Pasifik yang lebih kuat.
“Pemulihan perdamaian di perbatasan Thailand-Kamboja membuka peluang baru bagi Amerika Serikat untuk memperdalam kerja sama dengan kedua negara dalam mendorong stabilitas kawasan dan memajukan kepentingan kami menuju kawasan Indo-Pasifik yang lebih aman, lebih kuat, dan lebih sejahtera,” tambahnya.
Thailand dan Kamboja telah menghadapi sengketa perbatasan selama puluhan tahun yang meningkat menjadi konflik bersenjata pada Juli, ketika kedua negara itu saling menembakkan artileri dan melancarkan serangan udara.
Kedua pihak melaporkan adanya korban tewas, termasuk dari kalangan sipil. Pada Agustus, mereka mengumumkan gencatan senjata segera yang diikuti dengan kesepakatan untuk menghentikan konflik pada Desember.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menandatangani Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur di Malaysia pada 26 Oktober untuk untuk mengakhiri ketegangan perbatasan dan konflik bersenjata.
Penandatanganan perjanjian yang berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN itu, disaksikan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: Thailand: Kamboja tembakkan mortir, langgar gencatan senjata
Baca juga: AS sambut baik upaya Kamboja-Thailand laksanakan gencatan senjata
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

18 hours ago
3





































